Jumat, 16 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Andres Filtra, Perajin Tas Berbahan Ban Truk

Manfaatkan NGO, Diminati Pasar Australia dan Rusia

Rabu, 31 Oct 2018 23:45 | editor : Mochamad Chariris

Andres Filtra saat menjahit ban bekas untuk disulap menjadi aneka tas di rumahnya di Desa Salen, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Andres Filtra saat menjahit ban bekas untuk disulap menjadi aneka tas di rumahnya di Desa Salen, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Tidak banyak orang mampu mengkreasikan barang bekas tak terpakai menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Namun, di tangan Andres Filtra, ban bekas justru disulap menjadi aneka tas dengan kualitas yang tak diragukan.

SEMUANYA berangkat dari niat dan hobi yang digeluti. Juga kerja keras demi merubah keadaan menjadi lebih baik. Meski awalnya dianggap remeh dan buang-buang waktu, namun usaha tak akan mengkhianati hasil.

Ungkapan tersebut yang terus terpatri dalam benak seorang pemuda asal Desa Salen, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto ini. Empat tahun bergelut dengan ban dalam bekas, kreasinya kini mulai menampakkan hasil.

Ya, Andres Filtra memang tidak banyak menampakkan tas kreasinya yang terbuat dari ban bekas itu beredar di Mojokerto. Selain karena bukan pangsa pasarnya, ia juga menyadari, bahwa masyarakat lokal belum banyak yang mampu mengapresiasi sebuah kreasi.

Apalagi kreasi tersebut terbuat dari bahan baku sampah atau barang bekas.  Masih terdapat pandangan miring yang ia terima, meski sedikit demi sedikit mulai hilang dari telinga. ’’Saya sudah setahun ini fokus bikin tas dari ban dalam bekas untuk dipasarkan di kawasan Lombok dan Bali,’’ ungkapnya.

Pilihan ban dalam sebagai bahan baku pembuatan tas diakui Andres bukan tanpa alasan. Menurutnya, ban dalam memiliki tekstur dan serat yang cukup kuat untuk dijadikan pelindung barang berharga. Terutama dari terpaan panas dan rembesan air.

Hingga ia berpikir untuk menyulap ban menjadi bentuk tas sebagai wadah atau tempat menyimpan barang berharga. Seperti uang, handphone (HP), kamera, laptop, dan lain sebagainya. Semula, Andres cukup kesulitan dalam menciptakan tas.

Selain karena tidak punya pengetahuan tentang tata cara membuat tas, juga kendala peralatan yang sederhana. ’’Mulainya sejak empat tahun silam. Awalnya nggak sempurna, karena semuanya dikerjakan manual,’’ tambahnya.

Namun, keyakinan Andres menyulap ban bekas menjadi barang bernilai ekonomi tinggi tak mampu dikalahkan oleh keadaan. Sembari berdagang VCD kepingan, ia juga menyempatkan menjahit dan merangkai ban bekas yang dibelinya dari tukang tambal ban untuk disempurnakan menjadi sebuah tas.

Hingga akhirnya kreasinya itu membuahkan hasil dua tahun berikutnya. ’’Waktu setahun saya habiskan untuk merangkai dan membuat bermacam bentuk tas. Dua tahun berikutnya saya habiskan untuk promosi ke luar kota,’’ tambahnya.

Untuk biaya, Andres tak cukup mengeluarkan banyak ongkos. Pasalnya, ongkos produksi dan harga bahan baku sangat terjangkau. Bahkan, jika ia kalkulasi dengan harga jual, perbandingannya hanya 3:10.

Sehingga keuntungan yang bisa ia dapatkan mencapai 70 persen dari total omzet. ’’Karena ini adalah barang recycle. Jadi, tidak terlalu sulit. Saya pakai ban dalam truk fuso dan sepeda pancal,’’ imbuh bapak satu anak ini. Untuk harga jual, Andres tidak membanderol tinggi tas karyanya.

Di mana, jika dibandingkan dengan tas bermerek, nominalnya jauh di bawah. Seperti jenis sling bag yang hanya dibanderol Rp 150 ribu. Sementara dompet lipat dijual antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

Termurah adalah dompet STNK yang biasa dijadikan gantungan kunci, dihargai Rp 30 ribu. ’’Komposisinya 80 persen didominasi ban bekas itu sendiri. Sementara 2 persen sisanya adalah pernik-pernik untuk ornamen tas agar terlihat bagus,’’ terangnya.

Untuk pemasaran, Andres tidaklah sendirian. Karena bermodal bahan recycle, ia pun memanfaatkan NGO (non government organization) luar negeri yang bergerak di bidang lingkungan sebagai tenaga pemasaran.

Dari kerja sama itu, tas buatannya kini telah dilirik pasar mancanegara sebagai kreasi yang punya value tinggi. Meski belum bisa diproduksi dalam jumlah banyak, setidaknya tas buatannya itu telah merubah taraf hidupnya hingga melepaskan profesinya awal sebagai pedagang VCD kepingan.

’’Yang paling banyak beli ya dari Australia, Rusia, dan Austria. Karena mereka selalu mengapresasi hasil kreasi tangan, apalagi yang dari bahan recycle,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia