Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Pernah Ditawar Rp 1 M, Rumah Tersangka Korupsi Disita Kejari

Jumat, 19 Oct 2018 21:39 | editor : Mochamad Chariris

Kajari Kota Mojokerto Halila Rama Purnama saat memimpin penyitaan rumah Karyono di Desa/Kec. Sooko, Kab. Mojokerto.

Kajari Kota Mojokerto Halila Rama Purnama saat memimpin penyitaan rumah Karyono di Desa/Kec. Sooko, Kab. Mojokerto.

MOJOKERTO – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto melakukan penyitaan terhadap rumah dan kantor Direktur CV Karya Mulya, Karyono, di Wisma Sooko Indah, Jalan Arwana, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (18/10).

Penyitaan ini dilakukan sebagai upaya korps Adhyaksa dalam memulihkan kerugian negara akibat ulah rekanan nakal tersebut. Dipimpin langsung Kajari Kota Mojokerto Halila Rama Purnama, prosesi penyitaan tak mendapat ganjalan sedikit pun.

Rumah ini telah kosong dan ditinggal Karyono sejak menyandang status tersangka pada 22 Mei lalu. ’’Penyitaan ini untuk memulihkan kerugian negara,’’ ungkap Halila. Selain itu, jelas Halila, penyitaan dilakukan karena terdapat indikasi rumah dan bangunan seluas 342 meter persegi itu bersumber dari hasil korupsi.

Rumah di Jalan Bangka ini cukup istimewa. Dibangun dengan desain modern, rumah ini memiliki areal parkir yang cukup luas. Dengan konsep minimalis, rumah ini terlihat sangat elegan. Sejumlah tetangga Karyono menceritakan, rumah ini sudah berulangkali dijual dan ditawarkan ke sejumlah orang.

Harganya mencapai Rp 1 miliar lebih. ’’Sudah ada yang nawar Rp 1 miliar. Tapi tidak diberikan,’’ jelasnya tanpa menyebut besaran yang ditawarkan. Mantan koordinator bidang Pidana Khusus Kejati Jatim ini menjelaskan, langkah Kejari Kota Mojokerto untuk menghadirkan Karyono ke meja penyidikan selalu mengalami kegagalan.

Berulangkali dipanggil, tersangka tunggal atas korupsi pembangunan Gedung Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto ini selalu mangkir. Bahkan, ia mengabaikan panggilan penyidik yang dilakukan secara terbuka, 28 Agustus lalu.

Pelarian Karyono dari kasus yang tengah dihadapinya ini, dijelaskan Halila justru tak menguntungkan sedikit pun. Karyono tak bisa meluruskan berbagai sangkaan yang mengarah kepada dirinya. Berapa kerugian dalam proyek tahun 2014 lalu ini?

Kasi Pidana Khusus Kejari Kota Mojokerto Agus Tri Hartono enggan merincinya. Namun, ia memastikan akan membongkarnya saat proses persidangan. ’’Ini masih proses penyidikan. Nanti kita buka di persidangan,’’ katanya.

Sementara itu, sumber Jawa Pos Radar Mojokerto menyebutkan, kasus dugaan korupsi yang menjerat Karyono ini telah rampung diaudit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Hasilnya, terdapat kerugian hingga Rp 135 juta.

Perlu diketahui, Karyono bukanlah rekanan biasa. Di tahun 2014 lalu, ia mampu mendapat proyek bernilai miliaran rupiah. Terdeteksi, empat proyek besar, dimenangkan perusahaannya.

Keempat proyek itu adalah pembangunan gedung Perpustakaan dan Arsip dengan pagu Rp 2,09 miliar, gedung Puskesmas Pembantu Balongsari dengan pagu Rp 500 juta, gedung Inspektorat dengan pagu Rp 2,2 miliar, dan gedung SDN Wates dengan Pagu Rp 700 juta.

Setahun kemudian, BPK mengeluarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK dan merekomendasikan jika proyek pembangunan Perpustakaan dan Arsip terdapat kekurangan volume dan kelebihan pembayaran senilai Rp 135 juta.

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia