Kamis, 17 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Mengaku Tertipu Miliaran Rupiah, Bule Jepang Diamankan Polisi

13 Oktober 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Itaru Kashihara (kanan) saat diperiksa petugas Intelkam Polresta Mojokerto.

Itaru Kashihara (kanan) saat diperiksa petugas Intelkam Polresta Mojokerto. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Itaru Kashihara, 42, warga negara asing (WNA) asal Jepang terpaksa diamankan petugas Polresta Mojokerto setelah diusir warga Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto Jumat (12/10).

Bule asal negeri Sakura ini dinilai telah meresahkan keamanan kampung sekitar setelah empat hari berkeliaran tanpa henti. Aksi nekat Itaru ini ditengarai lantaran ia kesal dengan salah satu warga sekitar yang diduga telah menipunya.

Sehingga upaya pencarian nekat ia lakukan sendiri untuk menagih langsung uang miliknya sebesar hampir Rp 2 miliar. Informasi yang didapat Jawa Pos Radar Mojokerto menyebutkan, Itaru sudah empat hari ini berupaya mencari sosok Martin Hari Poernomo, 46, warga desa sekitar yang dituding telah menipunya.

Akan tetapi, upaya Itaru tak kunjung menemukan titik terang. Dia justru mendapat usiran dari keluarga Martin yang merasa resah dengan sikap Itaru. ’’Tiba-tiba dia diamankan petugas polsek dan dibawa ke Satintelkam Polresta. Dia juga sempat lapor ke Polsek Gedeg soal penipuannya,’’ ungkap Gunawan, anggota Tagana yang menampung Itaru selama di Mojokerto.

Gunawan menceritakan, Itaru sudah 7 bulan ini tinggal bersamanya di Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Kedatangannya ke Mojokerto hanya untuk menyelesaikan persoalan investasi pendirian perusahaan cangkang berbahan kulit kelapa sawit di Sidoarjo, Jatim dan Ciamis, Jabar.

Di mana, ia mempercayakan modal investasi pendirian pabrik sebesar 60 ribu USD (setara Rp 900 juta) dan emas 2,3 kg (setara Rp 1,2 miliar) ke tangan Sugiyanto dan Martin, warga Mojokerto yang jadi konsultan bahasanya.

Saat itu, Itaru meminta agar uangnya disimpan di Bank Mandiri atas nama PT Hanamaru Galuh Indonedia. Namun, saat Itaru datang ke Indonesia tahun 2016 lalu, uang yang ia percayakan justru raib.

’’Sugianto menjabat Direktur di PT tersebut. Namun, uang itu diduga dihabiskan Sugianto. Uang hasil penjualan 3 ons emas juga dibawa Martin,’’ tambah Gunawan. Itaru sempat melaporkan kasus penipuan tersebut ke Polres Ciamis dan Polres Sidoarjo.

Namun, sampai saat ini Itaru mengaku belum mendapat konfirmasi soal kelanjutan kasusnya. Hingga akhirnya ia nekat mencari sendiri kedua koleganya. Sementara itu, proses pemeriksaan Itaru oleh petugas satintelkam kemarin sempat tersendat lantaran pria berkebangsaan Jepang tersebut tak bisa berbahasa Indonesia.

Sehingga terpaksa memanggil penerjemah bahasa serta petugas dari Kantor Imigrasi Kelas I khusus Surabaya. Dari hasil pemeriksaan sementara, status dokumen Itaru ditengarai telah memasuki masa tenggang.

Di mana, visa exemption untuk berkunjung ke Indonesia yang dipakai telah memasuki masa overstay. Sehingga ia harus diamankan ke Kantor Imigrasi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

’’Akan kami cek dulu di sistem kami. Kalau masa berlaku visa sudah overstay, tapi tetap kami cek dulu,’’ imbuh Endar Prasetyo,­pejabat fungsional Kantor Imigrasi Kelas I khusus Surabaya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia