Rabu, 24 Oct 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Candi-Candi di Gunung Penanggungan Ikut Terbakar

Jumat, 12 Oct 2018 05:00 | editor : Mochamad Chariris

Kebakaran hutan di kawasan Gunung Penanggungan, Kec. Trawas, Kab. Mojokerto.

Kebakaran hutan di kawasan Gunung Penanggungan, Kec. Trawas, Kab. Mojokerto. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Kebakaran hutan di lereng hingga puncak Gunung Penanggungan belakangan juga membuat ekosistem alam turut mengalami kerusakan.

Keberadaan ratusan situs di kawasan gunung dengan nama lain Pawitra tersebut kondisinya juga terancam. Kasi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Jatim Kuswanto mengatakan, sesuai pengalaman di lapangan jika ada sebuah kejadian tentunya ada dampaknya.

Tak terkecuali kebakaran di Pawitra notabene gunung yang kaya akan peninggalan kerajaan. ’’Termasuk berdampak pada kerusakan situs di situ,’’ ungkapnya.

Apalagi, lanjut Kuswanto, kebakaran kali ini mengakibatkan hutan gundul. Secara otomatis, dalam jangka panjang saat musim penghujan tiba, tanah di lereng gunung tersebut rawan terjadi longsor. ’’Situs-situs kita saat hujan nanti akan terpendam dan terbawa banjir,’’ tambahnya.

BPCB berharap kebakaran yang telah menghabiskan ratusan hektare lahan hutan ini cepat teratasi. Sebab, dikhawatirkan kebakaran mengancam keselamatan situs-situs yang selama ini sudah dirawat.

’’Kalau kebakaran masif skala besar dengan area yang luas tentu berpengaruh. Apalagi, situs di sana (Gunung Penanggungan) banyak sekali, sampai ratusan,’’ terangnya.

Namun, di sisi lain, kata Kuswanto, situs-situs yang sebelumnya tak terdata, perlahan akan menampakkan diri. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Akibat kebakaran yang menghanguskan hutan di kawasan Pawitra hingga puncak, membuat situs baru bermunculan.

Salah satunya adalah jalur kuno lengkap dengan anak tangganya. Selain itu, altar-altar kecil atau berupa bangunan kotak menyerupai persembahan dan tempat menaruh dupa atau sesajian hingga gua juga ditemukan. ’’Situs yang selama ini tertutup ilalang malah bisa terlihat. Artinya, bermunculan secara alami,’’ tuturnya.

Kendati demikian, sebagai antisipasi kerusakan, BPCB sudah menugaskan 25 orang juru pelihara (jupel) yang sewaktu-waktu dapat merawat dan menjaga sekaligus melaporkan. ’’Itu tersebar di Candi Jedong, Jolotundo, Keduangudi dan wilayah Penanggungan,’’ pungkasnya.

Sementara itu, dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto kebakaran tidak hanya menghanguskan ratusan hektare hutan. Setidaknya, puluhan situs ikut terbakar.

Di antaranya, Candi Gentong, Pura, Putri, Shinta, Pendowo, Lemari, Bayi, Naga, Kendalisodo, Carik, Wisnu, dan masih banyak situs lainnya. ’’Untungnya, situs-situs yang terbakar itu berasal dari batu,’’ ungkap salah stau  tim relawan penjinak api di Gunung Penanggungan.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia