Minggu, 16 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Dampak Kekeringan dan Krisis Air Bersih Meluas

11 Oktober 2018, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Seorang petani hendak mengambil air menggunakan jerikan di Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Seorang petani hendak mengambil air menggunakan jerikan di Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Puncak musim kemarau yang masih berkelanjutan mengakibatkan kekeringan di Kabupaten Mojokerto terus meluas.

Tidak hanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sepanjang 2018 ini bencana kekeringan turut meningkat. Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M. Zaini mengatakan, sesuai prediksi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan November.

Sehingga wilayah yang terdampak sejauh ini semakin meluas dibanding tahun-tahun sebelumnya. ’’Jika sebelumnya kekeringan hanya berdampak pada empat desa, tahun ini menyentuh sembilan desa,’’ katanya.

Dia menyebutkan, di wilayah timur, tercatat ada tiga desa menjadi langganan kekurangan atau mengalami krisis air bersih. Meliputi, Desa Manduromanggunggajah, Kutogirang dan Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro.

Sedangkan di utara sungai Brantas ada enam desa. Masing-masing Pulorejo, Simongagrok, Banyulegi, Brayublandong, dan Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong. ’’Sementara tahun lalu di utara sungai hanya ada satu desa saja,’’ tambahnya. Dia menyebutkan, ada banyak faktor menyebabkan terjadinya kekeringan di sejumlah desa tersebut.

Selain musim kemarau panjang, di wilayah utara sungai, sebagian besar masyarakatnya masih menggunakan sumber air dari WSLIC (Water and Sanitation for Low Income Communities) atau program air bersih dan sanitasi untuk masyarakat miskin.

Tidak heran, saat musim kemarau tiba, kekurangan air bersih di desa-desa tersebut tak bisa dihindari. ’’Sebab, bisa dipastikan air sumber akan mengecil seiring belum adanya hujan,’’ tandasnya. Tak hanya itu, gangguan listrik juga menjadi salah satu pemicu terjadinya kekeringan di utara sungai.

Itu karena dari sumber air digerakkan dengan pompa. Sedangkan pompa digerakkan melalui energi listrik. ’’Listriknya terganggu, mungkin karena bayarnya telat atau kadang pas PLN-nya ngedrop,’’ ujarnya.

Semestinya, lanjut Zaini, di wilayah utara sungai sejak 2017 lalu sudah terbebas dari kekeringan. Namun, karena masyarakat enggan menggunakan sambungan PDAM, kekeringan pun masih terjadi.

’’Bahkan makin meluas,’’ tegasnya. Kendati demikian, untuk mengentas kekeringan tersebut, BPBD akan terus berupaya agar tahun 2018 hingga tahun depan warga di beberapa desa tersebut tidak lagi menggunakan WSLIC. ’’Bolehlah WSLIC dipakai, tapi PDAM diutamakan,’’ tandasnya.

Sebaliknya, untuk wilayah timur, sejauh ini faktonya masih sama. Yakni, karena tidak ada titik sumber mata air yang keluar. Kendati demikian, hingga detik ini penanganan darurat sudah dilakukan. Seperti pengiriman air bersih.

Bahkan, untuk penanganan jangka panjang, Zaini menyebut, sudah masuk dalam tahapan tender yang dilanjutkan dengan pemasangan pipanisai dari sumber Trawas untuk ditarik ke Desa Kunjorewesi. ’’Sudah ada dana Rp 800 juta dengan panjang pipa yang kita akan pasang sepanjang 9 km,’’ pungkasnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia