Rabu, 24 Oct 2018
radarmojokerto
icon featured
Features

Tas Custom Berbahan Limbah Sepatu, Diminati Pasar Malaysia

Kamis, 11 Oct 2018 20:51 | editor : Mochamad Chariris

Fauziah Utami menunjukkan tas custom berbahan kulit perca sisa bahan sepatu hasil karyanya.

Fauziah Utami menunjukkan tas custom berbahan kulit perca sisa bahan sepatu hasil karyanya. (Farisma Romawan/Radar Mojokerto)

Semua orang berhak meraup kesuksesan dengan caranya sendiri. Asalkan ada kemauan dan kerja keras. Sesuatu yang semula dianggap remeh, justru bernilai harga tinggi jika diramu dengan tekun.

Seperti yang tengah digeluti Fauziah Utami yang sukses menyulap limbah bahan kulit menjadi tas berkualitas. 

WARGA Perumahan Japan Raya, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini semula tak menyangka jika aktivitasnya yang hanya merajut bahan tak terpakai justru menjadi pekerjaan utamanya saat ini.

Tidak ada cita-cita muluk seperti yang ia bayangkan sebelum memulai hobi membuat kerajinan tangan. Semua berjalan seperti apa adanya dengan niat tulus ikhlas demi tujuan menyibukkan diri agar tidak jenuh di rumah. Namun, justru di situlah letak kesuksesannya.

Keikhlasan dan ketekunan menuntunnya menjadi ibu rumah tangga yang sukses dengan penghasilan puluhan juta rupiah. Kesuksesan tersebut tak lepas dari usahanya dalam membuat dan merangkai tas custom dari bahan kulit perca limbah pembuatan sepatu.

Meski sebagian besar aktivitasnya dihabiskan di dalam rumah, namun tak menyurutkan Fauziah Utami dalam mengembangkan kerajinan dan penjualan tas custom dari bahan kulit perca tersebut.

’’Saya memang ingin membuat usaha kreativitas. Lalu, saya belajar ke perajin Tanggulangin, Sidoarjo selama satu bulan. Tiga kali dalam seminggu saya belajar selama 4 jam pulang-pergi naik motor sendiri,’’ katanya.

Tammy, sapaan akrabnya memulai membuat kerajinan tas sejak tahun 2006 lalu. Ilmu membuat kerajinan tas ia dapatkan dari perajin kulit di Tanggulangin. Di sana, ia belajar selama sebulan.

Dimulai dari teknik menyulam dasar. Yakni, membuat model bulat pada tas hingga akhirnya dikembangkan sendiri tekniknya secara otodidak. ’’Saya kembangkan sendiri membuat model segitiga dan kotak,’’ ucapnya.

Setelah dirasa mahir, Tammy lantas memberanikan diri untuk memproduksi. Saat itu, ia memulai produksi dengan uang Rp 500 ribu yang ia sisihkan dari uang belanja. Lalu, diwujudkan berupa bahan kulit sisa sebagai bahan baku utama.

Bahan kulit itu ia dapatkan dari pengusaha sepatu di Desa Blimbingsari, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Namun, tidak semua proses produksi berjalan lancar. Saat pertama kali, ia sempat menemui kendala. Yakni, kesulitan membuat kantong dan handle (pegangan) tas.

Sehingga pilihan membeli di perlengkapan tas mau tak mau menjadi  alternatif terakhir. Akan tetapi, ia tak menyerah begitu saja. Wanita berusia 45 tahun itu terus mengotak-atik hingga akhirnya berhasil membuat kantong dan handle tas dengan caranya sendiri.

’’Saya mengotak-otik selama satu bulan, dan jadi sebuah produk tas kulit perca yang sempurna. Meski satu bulan hanya bisa memproduksi satu tas, saya bangga sekali,’’ terangnya. Setelah berhasil menciptakan produk tas pertamanya, ia tak lantas menjualnya.

Namun, lebih dulu ditunjukkan kepada para tetangga. Tak diduga, respons tetangga ternyata cukup positif terhadap buah karya tangannya itu. ’’Salah satu tetangga akhirnya membeli tas itu dengan harga Rp 150 ribu. Uang sebesar itu pada tahun 2006 sudah lumayan banyak,’’ tuturnya.

Setelah itu, Tammy melebarkan sayap pemasaran. Dia mencoba membuka stan penjualan. Akan tetapi, bukan di toko seperti halnya produk kerajinan lain. Melainkan di sejumlah pameran atau pasaran dadakan seperti car free day setiap hari minggu di Jalan Benteng Pancasila (Benpas) Kota Mojokerto.

’’Dari situ produk saya dikenal warga Mojokerto dan disperindag. Kemudian saya juga diajak ikut pelatihan,’’ urainya. Namun, lagi-lagi usahanya memasarkan produk tas kulit perca di awal-awal tidak secemerlang saat ini.

Sebab, kualitas produknya dirasa masih kalah bersaing dengan produk impor. ’’Awalnya hanya sedikit orang saja yang membeli. Karena bersamaan dengan munculnya produk impor, tapi saya tetap percaya diri,’’ katanya.

Kepercayaan diri Tammy pun berbuah manis. Pada tahun 2009, produknya mulai naik daun. Bahkan, warga dari luar Kota Mojokerto dan turis mancanegara tertarik untuk membeli. Saat itu, produknya bahkan bisa terjual sampai 60 unit per bulan. Dengan harga dan spesifikasi tas yang bervariasi.

Dimulai dari model tas jinjing, tas selempang, hingga double handle. Harga yang ia patok pun bervariasi, tergantung model dan ukurannya. Untuk ukuran kecil, dibanderol Rp 50 ribu. Sedangkan tas besar bisa sampai Rp 700 ribu.

’’Saya tak mudah menyerah. Lalu, tahun 2009 penjualan tas saya sampai di Kediri. Kemudian buming di Semarang. Sampai orang dari Malaysia juga tertarik membeli produk saya. Sekarang pendapatan saya sebulan mencapai Rp 30 juta,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia