Rabu, 24 Oct 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Doakan Leluhur Pembela Panji-Panji Maritim Majapahit

Kamis, 11 Oct 2018 18:09 | editor : Mochamad Chariris

Sejumlah orang melarung sesaji di Sungai Marmoyo, Pelabuhan, Desa Mlirip, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto.

Sejumlah orang melarung sesaji di Sungai Marmoyo, Pelabuhan, Desa Mlirip, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Sekitar 100 orang melarungkan 44 sesaji di Sungai Marmoyo, Dusun Pelabuhan, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Rabu (10/10). Larung sesaji itu sebagai bentuk sedekah dan doa kepada para leluhur. Hal itu diungkapkan oleh panitia larung sesaji, Guruh Wiweka Nugraha.

Guruh menjelaskan, acara ini doa kepada para leluhur yang telah gugur membela panji-panji di Maritim Majapahit. Terutama angkatan perang di daerah Maritim Majapahit yang dipimpin oleh Empu Nala atau Patih Nala.

’’Sebagai pemimpin ekspedisi, beliau telah memperluas wilayah Majapahit. Dan atas jasanya, Majapahit diakui dan memiliki julukan Naga Laut Selatan. Sementara China adalah Naga Laut Utara,’’ paparnya.

Pada waktu itu, China tidak berani menyerang Majapahit. Dan Majapahit tidak tunduk terhadap bangsa barat Guruh menjelaskan, sesaji yang dilarung beraneka macam. Seperti bubur merah putih yang dipercaya sebagai tolak balak.

Bubur merah putih atau disebut getih-getah sudah dari nenek moyang era kabuyutan. ’’Hal ini sudah dipercayai sejak dulu bahwa asal mula kita dulu adalah dari getih dan getah. Jadi, setiap komponen atau uborampe sesaji itu punya filosofi,’’ papar Guruh.

Selain itu masih banyak macam-macam bentuk sesaji lainnya. Guruh mengisahkan, peradaban di sungai Brantas adalah salah satu peradaban tertua di dunia. Pada salah satu aliran Sungai Brantas, di area Mojopahit terdapat prasasti yang bertuliskan bahwa Majapahit punya dua pelabuhan besar yang letaknya ada di dalam.

Satu di antaranya terletak di Terung Sidoarjo dan satunya lagi ada di lokasi larung sesaji. ’’Ini adalah yang paling besar dan paling dekat dengan Ibu Kota,’’ paparnya. Dalam prasasti tertulis nama panji-panji pasukannya adalah pasukan Margoboyo di bawah pimpinan Tumenggung Ajaran Roto.

’’Selain untuk membangkitkan kembali kebudayaan Pelabuhan Margoboyo, semoga dengan diadakannya kegiatan ini, para warga sekitar dan adik-adik kita yang masih muda-muda juga mempunyai keinginan untuk mengembangkan budaya. Karena selain agama, budaya juga menjadi pelindung dari ancaman gangguan atau kerusakan moral dari generasi muda,’’ harapnya.

Leluhur terdahulu telah gagah berani mengangkat Majapahit hingga gaungnya terdengar di benua Afrika. Meskipun pada zaman dahulu tidak ada sosial media. Namun pada waktu itu Kerajaan Majapahit sudah menguasai Asia. Kekuatan terhebatnya adalah melalui armada Maritim. ’’Kalau kita lupakan hal itu, kan ya lucu,’’ tegasnya.

Hal ini sebagai pengingat generasi muda bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar dan bangsa yang hebat. ’’Dulu hingga sekarang dan sampai masa depan kita akan tetap menjadi bangsa yang hebat kalau kita tidak melupakan sejarah. Kalau kita melupakan sejarah, kita akan lupa bahwa kita dulu adalah bangsa yang besar,’’ pungkasnya. (sad)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia