Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Jumlah Pasien Menurun, RSUD Protes Sistem Rujukan Online

09 Oktober 2018, 22: 35: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Suasana loket pelayanan BPJS Kesehatan di RSUD Kota Mojokerto nampak lebih lengang.

Suasana loket pelayanan BPJS Kesehatan di RSUD Kota Mojokerto nampak lebih lengang. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Penerapan uji coba sistem rujukan online BPJS Kesehatan menyisakan waktu sepekan lagi. Namun, sistem rujukan berjenjang itu masih menjadi perdebatan, baik dari pasien maupun fasilitas kesehatan (faskes).

RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto merupakan salah satu faskes yang cukup terdampak selama masa uji coba sistem rujukan online ini. Pasalnya, rumah sakit pelat merah tipe B itu baru bisa mendapat limpahan pasien rujukan setelah rumah sakit tipe di bawahnya terpenuhi.

”Dengan sistem berjenjang, otomatis kita hanya menerima pasien dari rumah sakit tipe C dan D setelah terpenuhi 80 persen,” ungkap Direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto dr Sugeng Mulyadi.

Dia menilai mekanisme baru ini kurang tepat jika dengan dalih pemerataan pasien. Pasalnya, dari fasilitas kesehatan tingkat pratama (FKTP), pasien hanya bisa memilih rujukan ke rumah sakit tipe C dan D. ”Itu bukan pemerataan namanya, tapi pasien dipaksa ke rumah sakit tipe C dan D,” urainya.

Sugeng menambahkan, aturan rujukan anyar itu dikhawatirkan berdampak tidak sehatnya persaingan antar-rumah sakit. Sebab, masyarakat tidak bisa dengan leluasa memilih dirujuk ke faskes yang dinilai memiliki kualitas pelayanan sesuai yang dikehendaki.

Kondisi itu terjadi sejak peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) meminta rujukan di FKTP. Pilihan faskes rujukan hanya dibatasi di sejumlah rumah sakit tipe C dan D yang telah dipetakan oleh BPJS Kesehatan.

”Yang sebelumnya berlomba-lomba membuat rumah sakit berpelayanan baik, pelayanan lengkap, sekarang seolah sudah tidak berlaku lagi. Karena masyarakat tidak bisa memilih sesuai dengan keinginannya,” imbuh dokter spesialis urologi ini.

Meski masih dalam masa trial, dampak sistem rujukan online sudah cukup dirasakan oleh rumah sakit milik pemkot ini. Sugeng menyatakan, selama diberlakukan rujukan berjenjang, pihaknya mencatat terjadi penurunan kunjungan pasien kurang lebih 20 persen.

Kunjungan pasien di RSUD rata-rata berkisar 600-900 pasien per hari. Baik pasien umum maupun peserta JKN-KIS. Namun, selama masa perpanjangan rujukan online sejak minggu lalu, jumlah kunjungan menurun dan hanya melayani antara 250-550 pasien rawat jalan per hari.

”Kalau kunjungan terjadi penurunan, tentu target pendapatan kita juga pasti akan menurun,” tukasnya. Sugeng mengaku saat ini pihaknya kini tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, BPJS Kesehatan selaku penyelenggara jaminan kesehatan sudah menerapkan sistem tersebut.

Hanya saja, selama masa uji coba yang rencananya bakal berakhir pada 15 Oktober nanti, pihaknya meminta harus ada evaluasi.  Khususnya dalam hal pilihan rumah sakit rujukan yang tetap memunculkan opsi rumah sakit tipe B. Dengan begitu, pilihan faskes diserahkan sepenuhnya kepada pasien.

”Perlu penyempurnaan, perlu peninjauan kembali terhadap sistem rujukan berjenjang itu. Jangan hanya pakem yang akhirnya berdampak bagi pasien maupun rumah sakit,” paparnya.

Jika tidak dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi penurunan kualitas pelayanan di setiap rumah sakit. Pasalnya, inovasi apa pun yang dilakukan oleh rumah sakit tipe B akan sangat kecil peluangnya terhadap peningkatan jumlah kunjungan pasien JKN-KIS. Sebab, opsi rujukan sudah terkunci di tingkat FKTP.

Sebaliknya, upaya peningkatan pelayanan pada rumah sakit tipe di bawahnya dikhawatirkan akan menjadi menurun. Karena biar bagaimanpun keduanya tetap mendapatkan alokasi rujukan pasien.

”Harus dievaluasi, karena akan ada kecenderung malas untuk memperbaiki rumah sakit menjadi lebih baik. Karena sudah ada jaminan mendapatkan pasien,” tutupnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia