Minggu, 16 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Terjatuh dari Lantai Dua, Santri Amanatul Ummah Meregang Nyawa

09 Oktober 2018, 18: 16: 20 WIB | editor : Mochamad Chariris

Tiga santri didampingi seorang ustad usai dimintai keterangan di Polres Mojokerto.

Tiga santri didampingi seorang ustad usai dimintai keterangan di Polres Mojokerto. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOSARI – Satreskrim Polres Mojokerto mulai menyelidiki tewasnya Muhammad Lintang Arrasy, 13, santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Senin (8/10) setidaknya ada 13 saksi terdiri dari ustad dan santri dimintai keterangan perihal tewasnya korban yang masih duduk di tingkat SMP itu. Sekitar pukul 10.43, mereka yang masih mengenakan seragam sekolah putih-hijau secara bersamaan datang ke mapolres.

Bersama tiga ustad, mereka langsung memasuki ruang sareskrim untuk menjalani pemeriksan atas insiden meninggalnya korban asal Jalan Melati, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Lintang meregang nyawa setelah terjatuh dari lantai 2 Gedung Asrama Kelas 9 CI Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Sabtu (6/10) malam. Dia mengalami luka parah akibat benturan keras. Selain mengeluarkan busa pada mulutnya, dia juga mengalami luka bengkak di kepala belakang hingga mengeluarkan darah pada hidungnya.

’’Kami masih melakukan penyelidikan, apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian dalam kejadian ini,’’ ungkap Kasatreskrim Polres Mojokerto AKM M. Solikhin Fery.

Menurut Fery, sejauh ini kepolisian sudah melakukan olah tempat kejadian perkara. Tepatnya di lantai dua gedung asrama dan titik korban terjatuh. ’’Hasil periksaan inilah yang akan dijadikan dasar penyidik untuk menyimpulkan sebab akibat terjadinya insiden tersebut,’’ terangnya.

Data awal menyebutkan, peristiwa tersebut terjadi seusai salat magrib. Sebelumnya, diketahui ada sepuluh santri di asrama lantai dua kelas 8 dan 9 CI. Mereka diketahui tidak mengikuti kegiatan mengaji di masjid karena beberapa alasan.

Tiga santri dikarenakan sakit, sementara tujuh lainnya diduga tidak mengikuti kegiatan atau absen. Mengetahui keberadaan mereka, pengurus pesantren atau ustad yang mengetahui lantas meminta turun dan bergegas mengikuti kegiatan. Mengetahui posisinya dipergoki pengurus, mereka seolah ketakutan. Berlari dan sembunyi.

Sementara, korban berupaya kabur dengan melompat jendela berteralis dibantu temannya. Dua santri berhasil melompati jendela, diam-diam melewati tepi tembok. Namun, karena diduga kurang hati-hati, korban yang mengikuti di belekangnya terjatuh dari lantai dua.

’’Diduga, Lintang terjatuh saat hendak melompat ke tembok bangunan sebelah. Bisa jadi terpelset, bisa jadi karena lompatan korban tidak sampai. Pastinya, masih kita dalami,’’ bebernya.

Pasca terjatuh, korban tidak langsung dilarikan ke rumah sakit. Oleh santri lainnya, korban justru dibersihkan lebih dulu dengan cara dimandikan. Namun, diduga tak kuat menahan sakit, korban kemudian dibawa oleh santri lainnya ke ruang pembina. ’’Saat itu, kondisi korban sudah tidak sadar,’’ tegasnya.

Lintang juga mengalami luka bengkak di kepala belakang hingga mengeluarkan darah melalui hidung. Pengurus pesantren yang mengetahui hal itu langsung melarikan korban ke Rumah Sakit Sumberglagah. Nahas, setibanya di rumah sakit, tim dokter menyatakan korban sudah meninggal dunia.

’’Mohon maaf saya tidak bisa menerangkan, karena pemeriksaan belum selesai,’’ ujar salah satu ustad kepada wartawan seusai dimintai keterangan. ’’Kita no comment,’’ sahut ustad lainnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia