Rabu, 24 Oct 2018
radarmojokerto
icon featured
Sportainment

Belajar Menembak, sempat Dicurigai Aliran Teroris

Senin, 24 Sep 2018 19:00 | editor : Mochamad Chariris

Atlet putri pemula saat berlatih menembak di lapangan Kwarcab Pramuka, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Atlet putri pemula saat berlatih menembak di lapangan Kwarcab Pramuka, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Tidak semua orang mampu meraih cita-citanya tepat sesuai yang diharapkan. Ibarat menembak, butuh insting dan kesabaran tinggi dalam membidik ujung senapan bisa tepat pada skip. Sehingga proyektil yang ditembakkan bisa mengenai sasaran.

Upaya seperti itu yang terus ditekankan kepada atlet pemula menembak Kabupaten Mojokerto dalam usaha mereka menjadi penembak profesional. Meski belum terwadahi dalam cabor resmi, dengan sabar para atlet pemula ini menempa dirinya dengan latihan yang digelar rutin setiap minggu.

Latihan tersebut sekaligus sebagai persiapan mereka sebelum melangkah menuju ajang olaharaga paling bergengsi se-Jawa Timur (Jatim). Yakni, Porprov Jatim yang akan berlangsung tahun depan di Tuban. Ya, menekuni olahraga yang bukan termasuk memasyarakat ini, cukup menyulitkan atlet menembak ini dalam mendapatkan pengakuan.

Jangankan diakui, para atlet dan penghobi menembak justru kerap dianggap miring lantaran sifat olahraganya yang esktrem. Di mana, penggunaan senapan sebagai senjata dapat mengancam keselamatan jiwa. Padahal, aktivitas menembak sejatinya bukan untuk melukai orang di sekitarnya.

Melainkan untuk melatih kesabaran dan kejujuran dalam mengejar sesuatu yang diinginkan. ’’Kita ini biasanya dicurigai seperti ikut alirannya teroris. Padahal, kita awalnya hanya sekedar hobi, terus berlatih untuk bisa mengembangkan menjadi olahraga,’’ terang Dhany Eka Setiawan, koordinator sekaligus pelatih Majapahit Shooting Club (MSC).

Melakoni pembinaan selama setahun terakhir membuat MSC mendapat tawaran untuk mendirikan Pengkab Perbakin Mojokerto. Yakni, induk organisasi yang menaungi olahraga menembak di Kabupaten Mojokerto.  

Hanya saja, sampai saat ini, upaya untuk melegalkan aktivitas mereka sebagai cabor masih belum terpikirkan. Yang mereka utamakan adalah mendidik atlet hingga mampu meraih prestasi nyata. Sebab, bagi mereka, legalitas bisa terjamin jika sudah menghasilkan bukti prestasi.

’’Kita fokus porprov dulu. Sudah ada tawaran untuk membentuk Perbakin dari KONI. Cuman kita minta waktu sampai tahun depan. Sementara kita masih berada dalam klub yang sudah teregister di Pengkot Perbakin Surabaya,’’ imbuhnya.

Dalam pembinaannya, Dhany sudah memiliki tak kurang dari 30 atlet pemula. Yakni, atlet putra dan putri dengan rentang usia antara 14 sampai 17 tahun atau usia SMP dan SMA. Mereka dilatih dengan model senapan angin sebagai senjata bagi aman bagi pemula dan akan dilombakan di Porprov 2019 nanti.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia