Minggu, 16 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Ketika Remaja Kota Onde-Onde Geluti Keroncong

Sangat Menikmati, Tepis Anggapan Musiknya Orang Lawas

18 September 2018, 23: 06: 22 WIB | editor : Mochamad Chariris

Para siswa SMPN 1 Kota Mojokerto saat menikmati latihan keroncong selepas pulang sekolah.

Para siswa SMPN 1 Kota Mojokerto saat menikmati latihan keroncong selepas pulang sekolah. (Arsyad/Radar Mojokerto)

Lawas. Zadul. Tua. Barangkali anggapan itu yang kali pertama muncul di benak banyak orang ketika mendengar musik keroncong. Namun, berbeda dengan siswa SMPN 1 Kota Mojokerto. Mereka justru semangat memainkan musik keroncong itu. 

Menikmati setiap alunan musik keroncong membuat siswa-siswa ini lupa akan lelahnya. Meski sepulang sekolah, mereka asyik meracik suasana. Sekumpulan remaja itu ingin menghangatkan Kota Onde-Onde ini dengan musik keroncong.

Setiap Jumat siang, mulai pukul 13.30 nampak beberapa siswa menata bangku salah satu ruang kelas. Bangku itu ditata hingga membentuk pola setengah lingkaran. Setelah tertata, satu per satu mereka mulai memegang alat musik.

Ya. Alat musik tersebut adalah serumpunan alat musik keroncong. Ada alat akustik yaitu cak, cuk, cello, dan alat musik elektrik bass, gitar dan keyboard. Nampak seorang cewek dan cowok memegang mikrofon. Keduanya adalah vokalis.

Sound system menyala. Musik mulai dimainkan. Suasana kelas seketika serasa hangat. Mereka senyum dan manggut-manggut mengikuti tempo dan irama nada. Kompak. Ya, meskipun mereka sesekali harus melihat partitur dan tertawa karena belum begitu hafal kunci dan urutan lagu.

Dengan vocalnya yang renyah, vocalis bernyanyi:

Malam malam aku sendiri
Tanpa cintamu lagi ouwoo..oo..oo

Beberapa lagu dilantunkan. Keasikan nampak di raut wajah mereka. Beranggotakan delapan personel, mereka menyebut dirinya sebagai Grup Keroncong Surya Dewangga. Ini adalah keroncong remaja generasi ke-3 di SMPN 1 Kota Mojokerto.

Asyiknya memainkan musik keroncong diungkapkan olehYunita Kurnia Sari, siswa kelas IX I. Sebagai vokalis, Yunita yang biasanya menyanyikan lagu pop mengakui bahwa musik keroncong itu beda. ’’Musiknya enak. Beda sama yang lainnya,’’ kata Yunita. 

Biasanya, orang dewasalah yang memainkan keroncong. ’’Kita ingin buat yang beda. Yang main anak-anak remaja. Dan saya ingin bisa lanjut bermain keroncong terus,’’ ungkapnya.

Hal serupa diungkkapkan oleh M Miftah A.S. Rozi, siswa Kelas VIII E. ’’Saya suka keroncong karena saya merasa suara saya pas dengan keroncong. Ada vibra-nya,’’ kata Rozi.

Dia yang baru tiga kali mengikuti latihan rutin keroncong, mengaku menikmati lagu-lagu dengan irama keroncong. ’’Seneng. Enak,’’ kata Rozi.

Salah satau personel pemegang alat Cuk, Yefta Wijaya Putra Kurniawan, siswa kelas VIII B mengakui bermain keroncong memang agak susah. ’’Tapi setelah bisa memainkannya, keroncong itu slow, santai dan asyik. Sekarang saya sudah punya alat sendiri. Jadi bisa main di mana pun,’’ ujarnya.

Andhika Dwi Darmawan, siswa kelas VIII H mengungkapkan, sudah sejak kelas 5 main musik di rumah. Namun baru kali ini main lagu-lagu keroncong. ’’Enak. seru,’’ katanya. Meskipun harus pulang sore, dia mengaku tidak merasa lelah. Pulang sore tetap semangat.

’’Orang tua sangat mendukung. Karena kakek dulu ternyata suka suka keroncong juga,’’ ungkap pemegang alat musik Cak tersebut. Di sisi lain, Senja Krisna, pelatih sekaligus guru kesenian SMPN 1 Kota Mojokerto, mengungkapkan, ada keroncong sejak 3 tahun lalu.

’’Anak-anak semangat semua. Pihak sekolah semuanya mendukung. Ini bisa sekaligus mengobati kerinduan telinga guru-guru juga,’’ kata Krisna.

Krisna mengaku sangat senang melihat mereka semangat ketika memainkan lagu keroncong. ’’Mereka kemarin juga ikut pentas di CFD Alun-Alun Kota Mojokerto,’’  tambahnya. (sad/abi)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia