Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Ritual Ruwat Sukerto di Pendapa Agung Trowulan

Menyimpan Makna Toleransi, Diakhiri Pembacaan Salawat

14 September 2018, 21: 20: 38 WIB | editor : Mochamad Chariris

Salah satu peserta mengikuti prosesi siraman pada ruwat sukerto di halaman Pendapa Agung Trowulan, Kab. Mojokerto.

Salah satu peserta mengikuti prosesi siraman pada ruwat sukerto di halaman Pendapa Agung Trowulan, Kab. Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Tahun Baru Islam 1440 Hijriah bertepatan dengan Bulan Sura selalu dimanfaatkan sebagai momentum merubah nasib. Prosesi ritual Ruwat Sukerto di Pendapa Agung Trowulan pun menjadi acara sakral bagi ratusan orang. Untuk membersihkan diri dari aura negatif atau mengusir kesialan.

PAGI itu pukul 09.00, sekitar 250 orang berjalan arak-arakan dari lapangan Pendapa Agung, Desa Nglinguk, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto menuju Kagungan Dalem. Tempat ini konon dikenal sebagai peninggalan Kodam V Brawijaya. Dari anak-anak hingga lanjut usia (lansia) kompak mengenakan busana serbaputih.

Mereka sedang mengikuti Ruwatan Sukerta. Sebuah ritual Jawa yang diyakini dapat membantu membersihan diri dari penyakit dan hal-hal negatif. Ruwatan masal ini digelar Disparpora Kabupaten Mojokerto.

Di Pendapa Agung,  pakeliran (layar) wayang kulit dibentangkan lengkap dengan susunan gamelan dan para penabuh gamelan beserta pesinden. Pintu masuk gapura berhias janur kuning, tandan pisang, dan daun beringin. Seperti dalam acara pernikahan.

Setiap peerta harus berbaris memasuki pintu itu lalu duduk di kursi berwarna biru yang sudah disiapkan di teras pendapa. Mereka tidak diperkenankan untuk makan atau minum terlebih dahulu. Meski di hadapan mereka sudah tertata indah ubo rampe (perlengkapan ritual) ruwatan. Dari mulai ternak unggas, perabot rumah tangga hingga perhiasan.

Di bilik penyucian, beberapa abdi dalem laki-laki berbaju hitam berdiri di depan sembari membakar kemenyan dan aneka ragam wewangian di atas tungku kecil. Hingga aroma dan asap pekatnya memenuhi seluruh teras pendapa. Tembang Jawa yang dilantunkan pesinden tanpa iringan gamelan seakan menambah suasana semakin sakral.

Satu per satu peserta ruwatan memasuki bilik untuk menjalani pembersihan. Ki Wiro Kadek, dalang yang memimpin ritual lalu membacakan doa-doa. Dilanjutkan dengan menuangkan air bercampur kembang beberapa rupa setaman ke atas kepala dan kaki setiap orang yang diruwat.

Untuk melengkapi ritual, sedikit rambut mereka juga dipotong menggunakan gunting. Siraman air tersebut merupakan prosesi untuk membersihkan diri dari sukerta–kotoran jiwa, aura negatif, dan spirit jahat. Sukerta bisa disebabkan karena dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat. Hingga menjadi penghalang kesuksesan atau menyebabkan hidup seseorang menjadi gelisah.

Ada juga sukerta yang di bawah oleh seseorang sejak lahir. Menurut kepercayaan Jawa, beberapa anak sukerta yang butuh diruwat antara lain adalah anak tunggal, serta anak perempuan di tengah dua anak laki-laki.

Ada pula anak yang perlu diruwat karena alasan kondisi saat lahir. Misalnya, seperti lahir saat matahari terbit, lahir saat matahari terbenam, dan lahir tengah hari. Orang yang terlahir dengan sukerta, pada kepercayaan Jawa, harus menjalani ritual ruwatan untuk membebaskan diri dari kekuatan-kekuatan negatif yang mengelilingi.

Jika enggan, mereka akan mengalami kesulitan hidup dan kesialan-kesialan lainnya. Usai siraman, para peserta ruwatan masal kemudian mengikuti prosesi inti, yakni pentas wayang Murwakala. Orang-orang yang diruwat tersebut diwajibkan duduk di tempat semula untuk menyimak pagelaran dengan khusyuk. Meski dengan badan kedinginan karena baru dimandikan.

Tidak sama dengan wayang kulit biasa yang digelar untuk hiburan semata. Wayang ruwatan ini lekat dengan beragam ritual Jawa. Sehingga tidak bisa dimainkan oleh sembarangan dalang. Oleh sebab itu, dalang peruwat wajib menjalani laku spiritual dahulu sebelum pentas. Seperti puasa dan mengamalkan doa-doa tertentu. Karena dia merupakan tokoh sentral dan bertanggung jawab atas prosesi ruwatan tersebut.

Ki Wiro Kadek asal Kecamatan Puri kemudian menancapkan wayang gunungan di tengah pakeliran untuk memulai pertunjukan. Dengan suluk-suluk mantra dan doa lainnya, dia lantas memulai prosesi  ritual. Konon, mantra dan doa itulah yang menjadi peluntur aura negatif yang selama ini meliputi diri orang-orang sukerta.

Meski ruwatan dikenal sebagai tradisi yang sudah hidup sebelum masa pra-Islam, pada kenyataannya banyak ritual yang memasukkan unsur Islami. Misalnya, sang dalang dalam memulai doa dengan suluk Asmaul Husna dan mengakhiri dengan membaca salawat Nabi Muhammad SAW.

 ”Apa pun sukumu, apa pun keyakinan yang kamu imani, kita semua bersaudara. Kita semua Indonesia,” ujar Ki Wiro Kadek mengawali prosesi Ruwat Sukerto.

”Melalui ruwatan ini, dengan kehendak Tuhan, kita semakin bersatu. Tidak ada pertengkaran dalam hal apa pun, karena acara ini tidak membedakan agama-agama. Intinya semua agama boleh ikut membersihan diri sini (Pendapa Agung. Red),” imbuhnya.

Salah satu peserta, Findia, 22, menceritakan keinginannnya untuk ikut ruwatan masal. Di antara yang melatarbelakangi adalah setelah dirinya merasa selalu dihinggapi penyakit medis. Sehingga membuat kehidupannya sulit berubah.

Meskipun berbagai cara dan pengobatan sudah pernah dilakukan, namun dia mengaku tak kunjung sembuh. ”Kemarin saya divonis dokter ada penyakit di dalam diri saya, dan saya berobat, tapi belum ada kemajuan,” ujarnya.

Sekretaris Disparpora Kabupaten Mojokerto Sampirno menjelaskan, ritual ruwatan ini digelar untuk melestarikan kebudayaan Jawa. ”Budaya Ruwatan Sukerto ini sebagai komitmen dalam menjaga dan melestarikan budaya,’’ katanya.

Dia menambahkan, peserta Ruwatan Sukerta pada tahun ini meningkat dari tahun lalu. Diikuti kurang lebih 250 peserta dari berbagai daerah. Di antaranya, Jombang, Kediri, Surabaya dan Mojokerto sendiri. ’’Tahun kemarin hanya 200 peserta’’ ujarnya. 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia