Rabu, 24 Oct 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Kiai Ma'ruf Minta Kiai NU Bersatu

Kamis, 13 Sep 2018 12:30 | editor : Mochamad Chariris

KH. Ma'ruf Amin saat memberikan keterangan pers di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto.

KH. Ma'ruf Amin saat memberikan keterangan pers di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Mendekati Pilpres 2019 mendatang, calon wakil Presiden KH. Ma'ruf Amin terus melakukan safari politiknya ke sejumlah daerah dan pesantren.

Rabu (12/9) malam calon pendamping Joko Widodo di pilpres mendatang itu giliran mengunjungi Pondok Pesantren Amanutul Ummah, Desa Kembangbelor,  Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu juga mengajak kalangan pesantren menjadi pusat pembedayaan ekonomi sekaligus pemersatu umat. "Saya ke sini bukan memberi nasihat. Kami mohon doa, mohon dukungan. Saya akan masuk ke pemerintahan. Mudah-mudahan langkah ini membawa maslahat lebih besar," ungkap Kiai Ma'ruf Amin.

Sebenarnya, pihaknya tidak menginginkan menjadi cawapres. Sebaliknya, saat dirinya dipilih menjadi pendamping Jokowi hal itu terjadi begitu cepat atau di saat-saat injury time. Saat itu, Rais Am PB NU ini juga tidak meminta jatah. "Saat itu kami hanya menawarkan, kalau Pak Jokowi menginginkan untuk dipilih. Akhirnya saya yang dipilih," tambahnya.

Namun, karena kini sudah berada di jalur politik, dia memohon doa restu kepada semua lapisan masyarakat, termasuk kalangan pesantren. Sekaligus meminta dukungan saat dirinya maju dalam kontestan Pilpres 2019 mendatang. Di lain sisi, Kiai Ma’ruf juga tidak menginginkan ada perbedaan antara kiai struktural dan kultural.

"Hari ini (kemarin, Red) menjadi penting menyatukan kiai kultural dan struktural. Kalau campur, maka NU (Nahdlatul Ulama) akan besar," tuturnya. Kiai Ma’ruf menjanjikan pihaknya akan membawa visi-misi umat dalam membangun kesejahteraan selama lima tahun ke depan.

Apalagi, jika ini memng benar-benar terpilih, kombinasi atau perpaduan antara dirinya berlatar belakang kiai dan Jokowi mewakili nasionalis, cukup kuat sebagai bekal membangun Indonesia dalam segala hal. Di antaranya, membangun perekonomiaan keumatan, kesehatan, pendidikan.

Termasuk pemberantasan kemiskinan juga menjadi poin yang wajib. Karena, lanjut Kiai Ma’ruf, di situ pemerintahan harus hadir. Bahkan, menjadi fardhu kifayah, menghilangkan bahaya kemiskinan dan kelaparan.

"Dipilihnya saya menjadi calon wakil Presiden itu menunjukkan jika santri juga bisa jadi wakil Presiden. Jadi santri tidak boleh pesimistis, harus optimistis," bebernya seraya memberi motivasi di depan ribuan santri. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia