Kamis, 15 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Sekolah Negeri Kekurangan Guru Agama

Kamis, 13 Sep 2018 11:00 | editor : Mochamad Chariris

Guru kelas PNS sedang mengajar siswa kelas V SDN Kranggan 1 Kota Mojokerto.

Guru kelas PNS sedang mengajar siswa kelas V SDN Kranggan 1 Kota Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Lingkungan dinas pendidikan di Kota Mojokerto mengalami kekurangan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kekurangan guru ini berasal dari jenjang SD negeri. Mayoritas merupakan guru mata pelajaran agama dan guru kelas. Kepala SDN Kranggan 4 Kota Mojokerto Anik Winarni mengaku senang mendengar kabar bakal dibukanya kembali rekrutmen CPNS.

Terlebih, formasi yang diterima pemkot tahun ini diprioritaskan bagi tenaga pendidikan. Kondisi itu dinilai cukup wajar. Mengingat, sejak dua tahun terakhir jumlah guru PNS di lembaganya terus berkurang.

Kondisi tersebut setelah banyak guru yang sudah memasuki masa purna. ”Di SDN Kranggan 4 memang kurang PNS banyak sejak lama. Karena ada guru yang sudah pensiun,” terangnya, Rabu (12/9).

Dari enam tingkat kelas, saat ini hanya tersisa tiga guru berstatus Aparatur Sipil Negera (ASN). Agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berlangsung, pihak sekolah telah merekrut GTT.

”Ada tiga kelas itu kita cukupi dari guru honorer,” ungkapnya. Masing-masing mengisi kekosongan kelas II, III, dan IV. Tidak hanya itu, kekurangan guru PNS juga terjadi pada posisi guru agama.

Selain pengajar agama Islam, pihaknya juga membutuhkan guru agama Kristen. Mengingat, ada 18 siswa SDN Kranggan 4 tercatat sebagai pemeluk agama Kristen.

”Karena mereka (siswa, Red) harus mendapatkan hak yang sama untuk mendapatkan pelajaran. Sehingga kita juga mengambil dua guru agama dari honorer,” ujarnya.

Menurut Anik, kekurangan guru PNS itu terjadi setelah para pendidik memasuki masa pensiun selama masa moratorium. Praktis, yang berstatus PNS sekarang tinggal orang.

Masing-masing tiga orang guru kelas, kepala sekolah, dan guru olahraga. Disamping itu, kekurangan tidak hanya dari tenaga pengajar. Pegawai sekolah mulai dari tata usaha (TU), perpustakaan, hingga penjaga sekolah juga berasal dari tenaga honorer.

Bahkan, Anik mengaku juga menambah satu GTT lagi untuk membantu mengajar mapel olahraga. ”Karena guru olahraga PNS hanya mengcover satu kelas saja karena kondisinya sedang sakit,” imbuhnya.

Kekurangan guru PNS juga terjadi di hampir sebagian besar SDN di Kota Onde-Onde. Di SDN Kranggan 3 misalnya. Dua guru kelas diisi GTT. Pun demikian dengan SDN Kranggan 1 yang membutuhkan guru mapel agama Islam dan Kristen.

”Guru kelas sudah terpenuhi. Hanya saja kami masih butuh guru agama,” terang Kepala SDN Kranggan 1, Endang Soenarjati. Dia mengatakan, kekosongan itu lantaran kedua guru agama telah meninggal dunia sejak April dan September 2017 lalu.

Dengan demikian, pihaknya terpaksa harus menutup kekosongan posisi tersebut dengan merekrut GTT. ”Ya semoga saja tahun ini bisa segera terisi,” pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia