Rabu, 19 Sep 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Pegiat Seni Mojokerto Peringati Malam 1 Sura

Usung Lakon Dukun, Sampaikan Pesan Sura dan Muharam

Rabu, 12 Sep 2018 11:00 | editor : Mochamad Chariris

Salah satu adegan dalam teater yang dipentaskan pada malam 1 Sura di Desa Batankrajan, Kec. Gedeg, Mojokerto.

Salah satu adegan dalam teater yang dipentaskan pada malam 1 Sura di Desa Batankrajan, Kec. Gedeg, Mojokerto. (Abe Arsyad Radar Mojokerto)

Banyak cara merayakan tahun baru. Seperti yang dilakukan pegiat seni Mojokerto. Memperingati Tahun Baru Islam atau Malam 1 Sura, mereka pentas teater. Puluhan seniman berkumpul dan beraksi. Di lapangan voli. 

SUASANA lapangan voli di Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, tak seperti biasanya. Malam itu (10/9), lapangan tersebut berubah menjadi suasana perkampungan.

Lima gubuk terpampang di beberapa sisi lapangan. Satu pendapa sederhana di sudut kanan lapangan. Kesan perdesaan semakin kental kala melihat alat penerangannya. Sejumlah oncor atau obor yang belum menyala itu berada depan gubuk dan di sudut-sudut lapangan.

Ya, lapangan voli telah menjadi panggung teater. Pementasan teater dengan lakon Dukun. Pementasan ini digelar memperingati malam 1 Sura atau malam 1 Muharam.

Pukul 19.00, orang-orang mulai datang. Sampai sekitar 300 orang merapat. Dari anak kecil, dewasa, sampai orang tua. Mereka mengitari panggung tersebut layaknya benteng tebal. Sampai menutup dua ruas jalan desa.

Beberapa menit sebelum pementasan dimulai, acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sambil berdiri, semua penonton ikut melantunkannya. Tepat pukul 20.00 pentas dimulai. Lampu halogen penerang panggung padam. Belasan oncor menyala.

Alunan gitar yang diracik serupa bunyi gamelan terdengar. Suara merdu tembang Jawa menyelimuti suasana panggung sekaligus ditambah kentalnya nada seruling. Penonton tersihir dengan suasana.

Cerita ini dikisahkan pada tahun 1970 Di sebuah Dusun Sidorukun. Penduduk di sana hidup sebagai petani, pedagang, dan masyarakat desa biasa. Di desa itu hiduplah seorang dukun sakti bernama Mbah Joyo. Konon semua penyakit bisa dia sembuhkan.

Semua orang di desa patuh padanya. Karena masyarakat desa belum mengenal Islam dengan baik. Dalam kondisi itu datanglah Samsul, seorang guru ngaji dari Desa Sidogeneng.

Kedatangannya ke Desa Sidorukun untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Hari demi hari Samsul mengajari anak-anak mengaji di pendapa. 

Namun, kedatangan Samsul ternyata mendapatkan bentrokan dari pihak Mbah Joyo dan pengikutnya. Karena ketenaran Mbah Joyo sudah luntur. Pada suatu malam Mbah Joyo punya niat buruk.

Dia berencana merusak lahan pertanian masyarakat Desa Sidorukun dan mengarahkan bahwa Samsul adalah dalang dari bencana itu. Masyarakat percaya. Akhirnya samsul diusir.

Setelah kepergiannya Samsul, Mbah Joyo merasa menang dan berjaya kembali. Pada malam hari itu, Mbah Joyo menculik perawan desa dan membawa masuk ke rumahnya.

Namun, gadis perawan itu akhirnya bisa kabur dan mengabarkannya pada warga. Akhirnya tercium bau kelakuan busuk Mbah Joyo. ’’O ternyata koe sing ngentekke perawan kene’’ teriakan para warga.

Akhirnya, Mbah Joyo di masa para warga. Pada Saat itu Samsul muncul dan menghentikan aksi warga. Samsul memintakan maaf atas kelakuan Mbah Joyo. ’’Mbah, sing jenenge penyakit iku sing iso nyembuhke iku mung Gusti Allah. Adewe iku mung perantara. Dadi ojo ngeroso sekti. Sektine iku mung gadhahe Gusti Allah,’’ kata Samsul.

Dalam pementasan itu ada karakter yang mencolok. Yaitu, orang gila. Di setiap gerak-geriknya sebagai orang gila, dia seringkali memunculkan adegan-adegan konyol yang menyita tawa pecah penonton.

Namun, beberapa dialognya yang menjadi beberapa pertanda dari nasib Desa Sidorukun. Pada akhir adegan orang gila itu mengatakan sesuatu. ’’Pacul sing digadang-gadang. Samsul sing marakke padang,” kata orang gila itu sambil tertawa. Adegan ini mengakhiri pentas.

Pentas tersebut selesai pada pukul pukul 21.27. Pementasan yang berlangsung selama 1 jam 27 menit itu sontak memecah suara tepuk tangan penonton.

Kukun Triyoga, sutradara sekaligus penulis naskah, mengatakan, tujuan menggelar pentas ini untuk menegaskan lagi kepada masyarakat bahwa tanggal 1 Sura itu juga 1 Muharam.

’’1 Sura itu seakan-akan yo mung Sura. Padahal, di dalam 1 Sura itu kan juga merupakan 1 Muharam atau tahun barunya Islam. Ingin saya tegaskan itu, akhirnya jadilah naskah dukun,’’ kata Kukun. (abe arsyad/abi)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia