Sabtu, 17 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Sweeping Pengendara, Polisi Antisipasi Perguruan Silat

Selasa, 11 Sep 2018 09:00 | editor : Mochamad Chariris

Sejumlah anggota kepolisian memeriksa penumpang mobil angkutan di Jalan Raya Bypass Mertex Mojokerto.

Sejumlah anggota kepolisian memeriksa penumpang mobil angkutan di Jalan Raya Bypass Mertex Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam atau 1 Sura menjadi atensi kepolisian di setiap daerah, termasuk Kabupaten Mojokerto.

Senin (10/9) ratusan personel terdiri dari polres dan polsek jajaran melakukan penyekatan di sejumlah titik. Selain melakukan cipta kondisi (cipkon), sekaligus mengantisipasi pergerakan massa perguruan silat yang bertolak ke Madiun untuk nyekar atau berziarah ke makam para leluhur Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

’’Tindakan preventif ini untuk menjaga kondusivitas di wilayah kami,’’ kata Kasatsabhara Polres Mojokerto AKP Bambang Eko Sujarwo. Di sisi lain, kata Bambang, Malam 1 Sura memang sudah menjadi atensi kepolisian.

Sebab, sesuai kesepakatan bersama, perguruan silat dan Forkompimda Madiun tidak menghendaki adanya pengerahan atau pergerakan massa. ’’Jadi, untuk yang ada di daerah, harus melaksanakan di kabupaten atau kotanya masing-masing,’’ tambahnya.

Mnurut Bambang, penyekatan dilakukan di empat titik. Meliputi, di perempatan Lengkong, Kecamatan Mojoanyar; pertigaan SPBU Jayanegara, Kecamatan Puri, serta Pertigaan Lengkong dan Perempatan Trowulan.

Agar tidak sampai lolos, untuk memastikan tidak adanya pergerakan massa, secara bergilir petugas melakukan sweeping pada setiap kendaraan yang melintas di empat titik tersebut.

Baik itu kendaraan pribadi atau umum. Termasuk, mobil boks atau kendaraan tertutup juga tak lepas dari pemeriksaan petugas. ’’Yang jelas, setiap ada pergerakan massa akan kami kembalikan. Termasuk, mereka yang membawa atribut (kelompok perguruan silat, Red),’’ bebernya.

Bambang menegaskan, sebenarnya tidak ada pelarangan. Hanya saja, penyekatan atau pukul mundur massa ini tak lain sebagai bentuk menindaklanjuti hasil kesepakatan pengurus pusat PSHT di Madiun.

Sebab, jika pergerakan massa dibiarkan, khawatirnya ada penumpukan massa cukup besar. Sehingga sesuai evaluasi sebelumnya, situasi itu rawan terjadi gesekan atau konflik. Baik dengan warga, pengguna jalan lain antar perguruan silat.

’’Nah, hal itu jangan sampai terjadi lagi. Jika kita bisa menekan potensi konflik kenapa tidak kita lakukan sedini mungkin,’’ terangnya. Tak hanya itu, jumlah massa yang besar juga rawan disusupi atau ditumpangi oknum atau kelompok yang tak bertanggung jawab.

Misalkan, mengadu domba antar perguruan silat. Apalagi, di tahun politik sekarang ini. Mendekati Pilleg dan Pilpres 2019. ’’Apalagi ini menjelang kampanye. Jangan sampai ada provokasi dan adu domba,’’ tegasnya.

Pasalnya, bagaimana pun semakin banyak yang berkonsentrasi di satu titik akan terjadi potensi kerawanan semakin tinggi.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia