Minggu, 26 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Siswa SD Dilarang Bawa Handphone

05 September 2018, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Empat siswa SD saat bermain handphone di luar jam sekolah..

Empat siswa SD saat bermain handphone di luar jam sekolah.. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto melarang siswa SD membawa atau memakai handphone (HP) di sekolah.

Selain itu, dispendik membatasi penggunaan perangkat gadget itu kepada siswa jenjang SMP. Alat komunikasi tersebut hanya boleh dipergunakan untuk mendukung mata pelajaran tertentu.

Kepala Dispendik Amin Wachid mengungkapkan, aturan itu merujuk pada regulasi Kemendikbud terkait larangan HP atau gadget masuk di lingkungan pendidikan. Aturan itu dikhususkan kepada siswa di jenjang SD.

”Ya, untuk siswa SD secara ketat memang tidak boleh membawa HP,” terangnya. Bahkan, beberapa sekolah telah menerbitkan tata tertib pelarangan penggunaan HP di sekolah.

Namun, kondisi di lapangan masih ada beberapa anak didik yang masih menggunakan gawai saat di sekolah. Menurut Amin, alasan siswa membawa HP adalah untuk sarana komunikasi dengan orang tua.

Akan tetapi, setelah diterapkan lima hari sekolah, masing-masing sekolah telah melakukan sosialisasi jam masuk maupun pulang kepada seluruh wali murid. Dengan demikian, sebenarnya siswa tidak lagi membutuhkan alat komunikasi untuk menghubungi orang tua untuk jam pulang sekolah.

”Karena jam pulangnya kan sudah jelas. Selama ini, orang tua ada yang 15 menit sebelum bel pulang sudah stand by di sekolah,” ujarnya.

Jika ada kepentingan mendesak, siswa maupun orang tua bisa saling menghubungi melalui perantara pihak sekolah. Pun demikian, apabila sewaktu-waktu siswa harus dipulangkan siswa lebih awal maupun lebih lama dari jadwal biasanya.

Maka, dalam hal ini gurulah yang harus bertanggung jawab untuk menghubungi wali murid. Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto ini menyatakan, saat ini, hampir seluruh kelas di SD telah dibentuk paguyuban sesuai kelas.

Paguyuban itu difungsikan sebagai media komunikasi antara sekolah dan wali murid. ”Di setiap paguyuban itu juga ada grup WA (WhatsApp). Kalau siswa pulang lebih awal, guru wajib komunikasi dengan orang tua,” tandasnya.

Di samping itu, bagi siswa jenjang SD, belum ada kegiatan belajar mengajar (KBM) mapel tertentu yang membutuhkan dukungan HP atau smartphone. Pasalnya, seluruh mata pelajaran (mapel) tidak ada yang bersinggungan secara langsung dengan teknologi informasi.

”Karena di SD sama sekali tidak ada pelajaran informatika,” imbuhnya. Oleh karena itu, keberadaan HP di kalangan siswa SD justru dikhawatirkan akan disalahgunakan.

Pelarangan itu, sebut Amin, bertujuan agar anak didik terhindar dari paparan informasi yang tidak layak, informasi tidak sesuai usia, maupun konten-konten negatif. ”Yang jelas untuk kesehatan. Karena HP juga disinyalir bisa mengganggu kesehatan mata anak,” bebernya. Terkecuali, bagi siswa yang duduk di bangku kelas VI.

Menurut Amin, pihak sekolah akan memberikan sedikit kelonggaran bagi kelas VI. Sebab, pengggunaan telepon pintar itu harus mulai dikenalkan untuk menunjang ujian sekolah (US) yang sudah menerapkan computerd based test (CBT).

Dia menambahkan, penggunaan HP hanya boleh digunakan sejak di jenjang SMP. Sebab, ada mapel tertentu yang dapat diaplikasikan secara langsung melalui smartphone.

Meski demikian, penggunaan juga dibatasi pada saat berlangsungnya mapel yang berhubungan dengan teknologi informasi saja. ”Seperti mapel informatika, siswa boleh bawa HP untuk buka internet. Tapi, itupun harus seizin gurunya,” pungkas Amin. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia