Rabu, 19 Sep 2018
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca

Suamiku Ganteng, tapi Pelitnya Minta Ampun

Rabu, 29 Aug 2018 16:00 | editor : Mochamad Chariris

Ist/Ilustrasi

Ist/Ilustrasi (jawapos.com)

Sore-sore ditawani kopi ireng

Tak ombe karo plengah-plengeh

Masio bojoku ganteng

Lek medit yo mending rabi maneh

Memiliki suami gagah dan ganteng barangkali bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang istri. Seperti bayangan Tulkiyem (samaran), 37, warga Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto ini.

Dia mengira bisa mengarungi bahtera keluarga dengan bahagia. Juga bisa berbangga diri karena mempunyai suami ganteng dan gagah.

Namun kenyataan berkata lain. Semua itu hanya fatamorgana. Mukiyo (samaran), 36, suami yang dibanggakan itu ternyata sangat pelit. ’’Ganteng tok, sing arep dipangan apane?’’ ujar Tulkiyem sembari tertawa.

Dulu, Tulkiyem dinafkahi Mukiyo Rp 50 ribu setiap harinya. Dan kondisi keluarganya berjalan baik-baik saja. Karena Tulkiyem juga ikut bekerja meskipun hanya sebagai PRT (pembantu rumah tangga).

Namun, seiring berputarnya waktu, kata Tulkiyem, sifat pelit Mukiyo muncul. Nafkah yang diberikan tidak masuk akal. ’’Mosok aku sesasi mek diwehi 100 ewu?” ujarnya.

Tulkiyem pun geram dan akhirnya memutuskan untuk pisah ranjang. Dia kembali ke rumah asalnya di Kecamatan Mojoagung. Sementara Mukiyo yang sehari-harinya sebagai sopir tetap tinggal di rumahnya di Kecamatan Gondang.

Selama pisah, terhitung 4 bulan, Tulkiyem sudah tidak pernah diberi nafkah. ’’Lek aku iki sing penting anak-anak iso mangan karo sekolah jane wes cukup,’’ ujar Tulkiyem.

Pernikahan yang berumur 18 tahun dan sudah dikaruniai 3 anak itu pun kandas. Jalinan kasih itu berujung gugatan cerai yang diajuakan Tulkiyem di Pengadilan Agama (PA) Kota Mojokerto.

’’Mending tak pegat. Aku wes oleh penggantine. Masio wonge elek tur wes tau rabi ping telu ora popo. Sing penting aku karo anakku iso bahagia,’’  kata Tulkiyem. 

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia