Rabu, 19 Sep 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Kenang Buah Hati, Kompak Tulis Nama Bayi di Tangan

Rabu, 29 Aug 2018 09:30 | editor : Mochamad Chariris

Dimas dan Cicik saat mengikuti rekonstruksi kasus aborsi di Vila Sapto Pacet, Mojokerto.

Dimas dan Cicik saat mengikuti rekonstruksi kasus aborsi di Vila Sapto Pacet, Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Setelah melewati proses penyidikan Satreskrim Polres Mojokerto akhirnya merekonstruksi kasus tewasnya bayi akibat dimasukkan dalam jok motor Nmax oleh orang tuanya.

Polisi juga ungkap fakta baru melalui reka ulang yang berlangsung di Vila Sapto, Jalan Raya Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Selasa (28/8).

Dalam rekonstruksi ini, petugas mendatangkan tersangka utama yang menjadi otak tindak pidana aborsi pada Minggu (12/8) lalu.

Keduanya tak lain adalah orang tua bayi, Dimas Sabhra Listianto, 21, warga Dusun Agung, Desa Cagak Agung, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik dan Cicik Rocmatul Hidayati, 21, warga Desa Gunung Sari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

’’Tujuannya untuk membuat terang perkara, maka akhirnya kami harus gelar rekonstruksi,’’ ungkap Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP M. Solikhin Fery.

Ada 17 adegan yang dilakukan dua tersangka. Yakni, di mana saat keduanya beraksi melakukan aborsi dalam kamar Asoka Vila yang tak jauh dari objek Wanawisata Air Panas Padusan, Kecamatan Pacet.

Di antaranya, mereka datang untuk memesan kamar vila, meminum obat penggugur kehamilan, prosesi melahirkan bayi, hingga akhirnya membawa ke Puskesmas Gayaman, Kecamatan Mojoanyar.

Dengan niatan pertolongan medis. Namun, cara mereka membawa bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut terbilang tidak wajar. Bayi sengaja ditaruh dalam jok motor Yamaha Nmax warna merah nopol W 3192 AT lalu dibungkus kaus biru.

Fery menuturkan, rekonstruksi kali ini, penyidik berhasil mengungkap fakta baru. Kata dia, sebelum akhirnya bayi dimasukkan ke dalam bagasi motor, terlebih dulu tersangka Dimas memasukkan darah dagingnya itu ke dalam tas ransel warna oranye. ’’Tas ini memang sengaja disiapkan,’’ tuturnya.

Tas tersebut digunakan tersangka untuk memindahkan bayi dari lantai dua vila. Di mana keduanya menyewa kamar untuk dibawa menuju ke garasi motor di lantai bawah.

’’Karena kebetulan, proses kelahiran bayi tersebut terjadi di lantai dua. Setelah itu, bayi baru dipindahkan ke bagasi motor,’’ tandasnya. Tindakan tersebut setelah keduanya panik dan kebingungan lantaran aborsi yang dilakukan tak seperti harapan.

Yakni, bayi tak berdosa ini lahir prematur dalam kondisi masih hidup. ’’Itu juga untuk menghindari agar tidak diketahui warga di sekitar vila kalau habis melahirkan bayi,’’ bebernya.

Tak hanya itu, rasa menyesal dan shock juga masih nampak pada kedua tersangka. Cicik sesekali harus mengusap air matanya.

Bahkan, untuk mengenang buah hatinya yang sudah meninggal, di dalam tahanan, keduanya sepakat memberi nama Muhammad Zaenal Abidin. ’’Nama itu juga diukir di tangan kanan mereka masing-masing,’’ pungkasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia