Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Akibat Dihukum Squat Jump, Siswa Ini Hanya Bisa Berbaring

20 Juli 2018, 19: 31: 07 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sugiono mendampingi putrinya di pengobatan alternatif sangkal putung Desa Pandanrum, Kec. Pacet, Kab. Mojokerto.

Sugiono mendampingi putrinya di pengobatan alternatif sangkal putung Desa Pandanrum, Kec. Pacet, Kab. Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) seakan membawa celaka bagi Mas Hanum Dwi Aprilia, 17, siswa SMAN 1 Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Bagaimana tidak, siswa yang duduk di kelas XI itu kini mengalami gangguan fungsi gerak pada kedua kakinya. Diduga, kondisi itu dialami pasca mendapat hukuman fisik saat ekskul di sekolah. 

Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, kejadian itu terjadi Jumat (14/7) lalu. Saat itu, Hanum bersama puluhan temannya mengkuti kegiatan ekskul Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) di SMAN 1 Gondang.

Ketika siswa asal Krian, Sidoarjo ini terlambat datang tepat waktu. Akibatnya, dia mendapat sanksi dari teman kelompok ekskulnya berupa hukuman fisik squat jump.

Sugiono, ayah Hanum menuturkan, dirinya tidak mengetahui persis apa yang menimpa putrinya. Sebab, selain bersekolah, selama ini putrinya juga tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren Al Ghoits, Desa Ketegan, Kecamatan Gondang.

”Jumat (13/7) malam saya ditelepon, katanya mengeluh badannya sakit semua,” terangnya. Oleh sebab itu, pihak keluarga menjemput Hanum dari pesantren untuk pulang ke rumahnya pada Sabtu (14/7).

Ketika itu, Hanum belum mengalami tanda-tanda mengalami gangguan serius pada tubuhnya. Selang satu hari, putrinya diantarkan kembali ke pesantren. Sebab, Senin (16/7) sudah mulai aktif hari pertama sekolah di tahun ajaran baru ini.

Dia tidak menyangka bahwa kondisi putrinya semakin memburuk. Hanum mulai mengalami kesulitan untuk melangkahkan kakinya. Siswi kelas XI IPS 2 itu harus dibopong oleh teman-temannya untuk sekadar pergi ke kamar mandi.

Bahkan, selama beberapa hari terakhir putrinya sudah tak mampu lagi untuk berdiri. ”Hanya bisa slonjoran (berbaring), bangun sudah tidak bisa,” terangnya.

Semakin hari kondisi putrinya kian menurun. Hingga akhirnya, pada Rabu (18/7) kedua kaki Hanum sudah nyaris tidak bisa digerakkan. Untuk beranjak dari tempat tidur pun sudah tak lagi bisa dilakukan.

Merasa khawatir mengalami cedera serius, saat itu juga pesantren berinisiatif membawanya ke pijat alternatif sangkal putung di Desa Pandanrum, Kecamatan Pacet.

Sugiyono mengaku sempat diceritakan ikhwal keluhan yang dialami anaknya. Menurutnya, hal itu mulai dirasakan anaknya setelah mengikuti kegiatan ekskul di sekolah. Diduga karena putrinya terlambat hadir sesuai jadwal, sehingga Hanum harus menjalani sanksi hukuman dari teman ekskulnya.

”Katanya habis latihan di sekolah. Tapi, karena terlambat diberi hukuman,” tandasnya. Dari pengakuan putrinya, hukuman yang dijalani berupa hukuman fisik dengan melakukan squat jump.

Dia tidak mengetahui pasti berapa kali anaknya melakukan squat jump. ”Katanya (Hanum) squat jump. Tapi, berapa jumlahnya saya tidak tahu,” pungkasnya.

Dia mengaku sudah didatangi pihak sekolah kemarin. Kedatangan guru-guru tersebut untuk menjenguk anak didiknya yang kini masih dirawat di pengobatan alternatif sangkal putung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pacet.

Sugiyono mengatakan, belum menanyakan persis perihal penyebab hukuman yang dialamatkan kepada putrinya. Karena kini dia hanya fokus untuk kesembuhan anaknya. Keluhan yang dialami putrinya kini tidak bisa menggerakkan kedua kakinya dan mengeluh sakit pada bagian punggung.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia