Sabtu, 17 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Features

Ada Kampung Ternak di Pacet, Dihuni Ribuan Ekor Kambing

Kamis, 12 Jul 2018 16:30 | editor : Mochamad Chariris

Munib, salah satu peternak memberi minuman kambing piaraannya.

Munib, salah satu peternak memberi minuman kambing piaraannya. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Ada yang unik di sebuah kampung berada di Dusun Treceh, Desa Sajen, Kecamatan Pacet. Di kampung tersebut tidak digunakan sebagai tempat tinggal warga, melainkan khusus dihuni hewan ternak. Seperti apa?

Dari kejauhan, tampak puluhan rumah semi permanen berjajar rapi. Sekilas, bangunan beratap genting dan asbes itu terlihat seperti perkampungan atau pemukiman penduduk.

Namun, jangan harap jika Anda akan bertamu di salah satu rumah. Sebab, di lokasi tersebut adalah kampung ternak. Ya, rumah-rumah yang berdiri di sana hanyalah deretan kandang yang dihuni hewan ternak.

Kompleks perkandangan itu berada di Dusun Treceh, Desa Sajen, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Terdapat sekitar 90 kandang yang dibangun di atas lahan sekitar setengah hektare itu. Di dalamnya terdapat sekitar seribu hewan ternak jenis kambing dan sapi.

Kampung ternak yang diberi nama Pandansili itu merupakan lokasi pemeliharaan hewan ternak milik warga setempat. Lokasi itu didirikan oleh kelompok ternak Dusun Treceh sekitar enam tahun lalu.

Sebelumnya, para peternak telah memiliki kandang di persawahan masing-masing. ”Tapi, saat itu banyak hewan ternak yang hilang karena dicuri,” ungkap Munib, ketua kelompok ternak.

Merasa khawatir, para peternak berkeinginan untuk memindahkan kandang di perkampungan. Dengan harapan bisa mengawasi hewan ternaknya tak jauh dari tempat tinggalnya.

Namun, karena hampir seluruh warga bermata pencaharian sebagai peternak, pemerintah dusun akhirnya melarang warga agar tidak membuat kandang di perkampungan.

Dengan memanfaatkan lahan ganjaran desa, akhirnya didirikanlah kampung ternak sebagai gantinya. Setiap peternak diberi jatah membangun kandang berukuran 6x7 meter. Seiring berjalannya waktu, jumlah kandang semakin banyak.

”Sekarang sudah ada sekitar 90-an kandang,” paparnya. Dari jumlah tersebut, 70 buah di antaranya adalah kandang kambing. Sedangan sisanya digunakan untuk memelihara sapi.

Munib mengatakan, setiap kandang kambing rata-rata dihuni kurang lebih 10-15 ekor. Sedangkan untuk sapi hanya terdapat 2-4 ekor per kandang. ”Jadi, jumlah seluruhnya sekitar seribu ekor,” terangnya.

Aktivitas di kampung tersebut hanya terlihat saat pagi sekitar pukul 06.00 pagi. Pada saat itu seluruh peternak silih berganti membawa rumput dan dedaunan sebagai sarapan pagi hewan-hewan ternaknya. Hal itu akan dilakukan lagi saat sekitar 16.00.

Menjelang Idul Adha seperti saat ini, para peternak mulai sibuk menyiapkan hewan piaraannya. Karena, saat hari Raya Kurban nanti, kampung ternak Pandansili selalu diserbu pembeli. Pembeli datang dari perorangan, lembaga, maupun perusahaan yang menginginkan hewan kurban. Menurut Munib, penjualan meningkat hampir dua kali lipat saat Idul Adha.

Tak hanya itu, penghasilan peternak tidak hanya didapat dari hasil penjualan. Mereka juga bisa mendapat tambahan dari kotoran ternak mereka. Sebab, di kampung tersebut juga didirikan pengolahan pupuk kandang yang diolah dari kotoran kambing dan sapi. Bahkan pupuk yang diolah dikirim ke berbagai kota.

Uniknya, meski dihuni hewan ternak, keamanannya tidak kalah ketatnya dengan sistem keamanan lingkungan (siskamling) di perumahan.

Sebanyak 90 peternak ditugaskan secara rutin untuk menjaga keamanan dari aksi pencurian. Setiap hari sekitar 4-7 orang secara bergiliran melakukan patroli malam.

Setiap blok juga didirikan pos kamling untuk memantau situasi di sekitar kampung ternak. ”Alhamdulillah sampai saat ini di kampung ternak aman,” paparnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia