Sabtu, 17 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Folk, Wadah Petualang dan Pencinta Fotografi

Butuh Perjuangan untuk Memotret Keindahan Alam

Rabu, 11 Jul 2018 20:53 | editor : Mochamad Chariris

Anggota komunitas Folk Mojokerto pertemuan rutin membahas lokasi berpetualang dan menghasilkan karya foto yang indah.

Anggota komunitas Folk Mojokerto pertemuan rutin membahas lokasi berpetualang dan menghasilkan karya foto yang indah.

Berpetualang dan menyusuri keindahan alam, sudah dilakukan banyak orang. Namun, di Mojokerto, terdapat komunitas yang hobi berpetualang sekaligus mengabadikan eksotisme ciptaan Tuhan. Mereka menyebut dirinya, Folk Mojokerto.

POPULARITAS fotografi sebagai seni maupun hobi terus meroket. Apalagi, dengan munculnya berbagai aplikasi sharing foto yang kian familier di tengah masyarakat.

Hal inilah yang juga menjadi awal lahirnya komunitas Folk Mojokerto sejak akhir tahun 2017 lalu. ’’Kita memang hobi mengeksplor keindahan alam,’’ ujar ketua komunitas, Fahmi Umarok.

Pemuda 22 tahun asal Desa Karangasem, Kutorejo ini, menambahkan, Folk memiliki seni visual yang tinggi. ’’Beda dari sensasinya. Folk cenderung ada perjuangan dulu sebelum mendapatkan hasil gambar yang bagus,’’ imbuhnya.

Untuk mendapat gambar alam yang indah, kata dia, membutuhkan petualangan. Semisal, harus mendaki gunung demi memburu keindahan alam yang jarang bisa ditemukan orang umum.

Saat ini, komunitas yang baru setahun terbentuk ini sudah memiliki hampir 40 anggota. Mereka rutin mencari keindahan alam Mojokerto. Mulai dari berbagai gunung di sekitaran Mojokerto hingga berbagai kawasan wisata.

Untuk menjadi anggota di komunitasnya, tak harus bermodal kamera mahal. Karena, untuk menghasilkan foto yang indah, bisa dengan menggunakan ponsel saja. ’’Folk tidak harus pakai camera DSLR yang mahal. Dengan handphone juga bisa,’’ tegas anggota yang lain, Sholeh Afandi.

Namun, untuk menghasilkan keindahan foto, ia pun harus melakukan proses editing. Nah, proses inilah yang cukup rumit. Meski angle yang ditemukan sangat menarik, namun dengan editing yang salah, maka foto yang dihasilkan tak akan sempurna.

Di proses editing, kata Sholeh, ia dan teman-teman komunitasnya terus saling bertukar ide dan kreativitas. ’’Teman-teman biasanya pakai photoshop,’’ katanya

Dengan aplikasi ini, foto akan diolah dengan saturasi, kontras dan editing lainnya yang pas. Sehingga, foto yang semula tidak begitu indah, akan mampu mencuri perhatian.

Foto-foto yang dihasilkan komunitas ini lebih banyak dibagikan di media sosial. Di antaranya instagram. Mereka tak sekedar menunjukkan kecintaannya terhadap alam, namun juga turut mempromosikan wisata di wilayah Mojokerto. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia