Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

PSHT-Pagar Nusa Sepakat Jaga Perdamaian, Cegah Konflik Sosial

26 Juni 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata (empar dari kanan) bersama perwakilan Pagar Nusa, PSHT, dan ormas NU sepakat menciptakan kondusifitas daerah.

Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata (empar dari kanan) bersama perwakilan Pagar Nusa, PSHT, dan ormas NU sepakat menciptakan kondusifitas daerah. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOSARI - Polemik yang terjadi antara kelompok Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) dengan Pagar Nusa di Nganjuk, Minggu (24/6) turut menjadi perhatian Polres Mojokerto.

Untuk mengantisipasi melebarnya perseteruan tersebut ke daerah lain, kemarin mereka melakukan penandatanganan nota kesepakataan bersama atau MoU (memorandum of understanding) di Mapolres Mojokerto. Kesepakatan pernyataan sikap bersama ini sekaligus untuk menciptakan kondusifitas dan keamanan di daerah.

’’Focus group diskusion (FGD) ini sebagai antisipasi agar konflik sosial yang terjadi tidak melebar ke Mojokerto,’’ ungkap Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata, kemarin.

Turut hadir dalam forum ini adalag Banser, kepala bakesbangpol, GP Ansor, PSHT, dan Pagar Nusa. ’’Kita sepakat bersama menjaga kondusifitas. Tidak anarkhis atau ada penggalangan massa. Apalagi sampai anarkhis lantaran terpancing dan terprovokasi,’’ terangnya.

Dia menegaskan, aksi pembakaran bendera berlambang NU di Nganjuk pada Minggu (24/6) lalu merupakan ulah oknum. Tidak membawa organisasi.Apalagi polemik itu pun kini sudah ditangani kepolisian dalam proses hukum.

Sehingga sebagai warga negara yang taat hukum, dia meminta, baiknya semua kelompok untuk menghormati prosesnya. ’’Kita semua saudara. Jadi, percayakan peristiwa itu pada penegak hukum,’’ tegasnya.

MoU dari masing-masing organisasi masyarakat (ormas) agar konflik tersebut tidak meluas ke daerah,. ’’Pernyataan bersama ini sebagai upaya jemput bola sebelum terjadi apa-apa,’’ pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Pagar Nusa sepakat dengan inisiatif kepolisian. ’’Kami nyatakan, Pagar Nusa dan PSHT tidak apa-apa. Itu semua oknum saja,’’ kata Ketua Dewan Khos Pagar Nusa, Moh. Sholeh, seusai MoU.

Sebagai upaya meredam hingga, pihaknya menyatakan agar semua pihah bersikap bijak dan tidak mudah terprovokasi. ’’Biarkan penanganan ini ditangani pihak berwajib. Kita semua adalah saudara,’’ tandasnya.

Setidaknya, ada lima poin yang disepakati. Di antaranya, dua perguruan silat harus saling menghormati dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan kebencian, konflik, fisik atau tindakan anarkhis lainnya, meningkatkan silaturahmi dan persaudaraan antarkelompok.

Agar tercipta situasi aman dan kondusif. Selain itu, secara pro aktif membantu Polri dalam memelihara dan menjaga ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polres Mojokerto.

Kedua belah pihak agar ikut meredam kelompoknya masing-masing untuk menjaga situasi yang kondusif di tengah pilkada serentak. Disamping itu, akan menyebarluaskan hasil kesepakatan bersama kepada anggota perguruan masing-masing.

’’PSHT akan patuh dan tidak akan mengambil langkah di luar kesepakatan. Apalagi, sampai bertindak di luar hukum,’’ tandas ketua PSHT Mojokerto, Hari Sutjipto.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia