Rabu, 22 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
M. Febryan S., Berjuang Melawan Kanker Mata

Renggut Mata Sebelah Kanan, Membengkak hingga Separo Wajah

Kamis, 31 May 2018 21:28 | editor : Mochamad Chariris

Kapolresta AKBP Sigit Dani Setiyono saat mengunjungi M. Febryan di rumah orang tuanya di Kelurahan Kedundung, Kec. Magersari, Kota Mojokerto.

Kapolresta AKBP Sigit Dani Setiyono saat mengunjungi M. Febryan di rumah orang tuanya di Kelurahan Kedundung, Kec. Magersari, Kota Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Muhammad Febryan Syahputra, bocah yang baru berusia 3 tahun itu harus berjuang melawan penyakit kanker mata. Saat ini kondisinya cukup memperihatinkan. Bagian mata mengalami benjolan cukup besar hingga menutupi separo wajahnya.

BOCAH laki-laki itu tidak mau turun dari gendongan Denis Mega Kajatiputri, ibunya. Kedua tangannya seakan tidak bisa lepas menggenggam sebuah handphone yang dimainkannya. Sesekali dia meringik dan meminta ibunya untuk masuk rumah.

’’Kalau ada orang tidak dikenal, dia selalu mengajak masuk ke kamar,’’ ujarnya. Di rumah sederhana itulah bocah bernama Muhammad Febryan Syahputra tinggal bersama kedua orang tuanya.

Sudah kurang lebih tiga tahun ini mereka menempati kontrakan yang berada di Jalan Empunala, Lingkungan Balongrawe, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto itu.

Di ruang tamu hanya terlihat tikar yang digunakan untuk menyambut tamu yang datang. Sekilas, anak kelahiran 2 Ferbuari 2015 itu terlihat cukup aktif seperti anak seusianya.

Namun, benjolan yang berukuran cukup besar di bagian mata kanannya itu menutup separo dari wajah mungilnya. Denis menceritakan, putra pertamanya itu lahir seperti anak normal pada umumnya.

Tidak nampak tanda tanda-tanda keanehan apa pun dari bayi yang biasa dipanggil Bryan tersebut. ’’Normal seperti bayi lainnya,’’ paparnya.

Namun, ada sedikit keanehan pada saat Bryan memasuki usia empat bulan. Kornea mata kanan yang semula terlihat hitam mulai mengalami perubahan warna.

’’Kalau kena sinar, bagian korneanya terlihat berwarna kuning,’’ ujar warga asli Dusun Kangkungan, Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ini.

Awalnya, dia mengira tidak terjadi apa-apa pada buah hatinya. Namun, saat genap berusia 1 tahun dia mulai merasa khawatir. Nenis kemudian mengajak suaminya, Mochamad Yunus, untuk memeriksakan Bryan ke dokter spesialis mata.

Saat itu, kata Denis, dokter tidak secara gamblang menjelaskan kondisi anaknya. Namun dia disarankan untuk merujuknya ke RS Mata Undaan, Surabaya.

Belum sempat dilakukan pemeriksaan, bocah malang itu terjatuh saat bermain. Kebetulan melukai mata sebelah kanan dan terjadi pembengkakan. Hingga akhirnya, orang tuanya membawa ke RS Mata Undaan.

’’Di sana (RS Mata) akhirnya baru tahu kalau terkena sakit Retinablastoma (kanker mata pada anak),’’ ujarnya. Dokter kemudian menyarankan untuk merujuknya. Kali ini Bryan disarankan untuk menjalani operasi di RSUD dr Soetomo, Surabaya.

Sekitar enam bulan kemudian, Bryan harus merelakan indra penglihatan sebelah kanannya untuk diangkat melalui operasi. Pasca menjalani operasi itu, kondisi putra semata wayangnya sudah terlihat lebih baik.

Untuk membersihkan sel kanker harus rutin melakukan kemoterapi. Namun, perempuan 22 tahun ini mengaku anaknya drop tiap kali dilakukan kemoterapi. ’’Setelah kemo, anak saya drop hingga tidak bisa jalan selama satu bulan,’’ tandasnya.

Akhirnya, dia dan suaminya memutuskan untuk pulang paksa dari rumah sakit. Rupanya keputusan itu justru membuat kondisi putranya semakin memburuk. Bagian mata yang telah dilakukan operasi kembali timbul pembengkakan.

Denis menjelaskan, pembengkakan itu awalnya hanya terlihat kecil seukuran biji kacang yang ada di bagian tulang pelipis kanan. Namun, lama kelamaan semakin membesar hingga seukuran hampir separo dari ukuran kepalanya. ’’Membesarnya sangat cepat,’’ imbuhnya.

Saat ini, sebagai upaya terakhir, dirinya lebih memilih pengobatan alternatif untuk kesembuhan anaknya. Salah satu alasannya adalah biaya. Meski mengaku sudah mengurus jaminan kesehatan berupa BPJS mandiri kelas III, namun dia kesulitan untuk biaya operasional lainnya.

’’Anaknya (Bryan) tidak pernah sambat (mengeluh). Sebagai orang tua saya harap semoga bisa segera sembuh,’’ pungkas dia.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia