Minggu, 19 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Umat Buddha Jalani Ritual Pradaksina hingga Meditasi

Kamis, 31 May 2018 02:30 | editor : Mochamad Chariris

Umat Buddha menjalani ritual pradaksina di malam puncak Waisak di Mahavihara Trowulan Mojokerto, Selasa (29/5) malam.

Umat Buddha menjalani ritual pradaksina di malam puncak Waisak di Mahavihara Trowulan Mojokerto, Selasa (29/5) malam. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Perayaan Hari Tri Suci Waisak 2562 BE/2018 diikuti ratusan umat Buddha di Mojokerto dengan khusyuk. Tak kurang dari 600 umat Buddha memadati Mahavihara Majapahit di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Mereka menyambut datangnya Purnama Siddhi sebagai puncak suci ajaran Sidharta Gautama, Selasa (29/5) malam. Namun, sebelum puncak meditasi, ratusan umat terlebih dulu menjalani ritual pradaksina dengan mengelilingi kompleks Mahavihara dan Patung Buddha tidur yang terbangun di beagian bagian belakang vihara.

Di mana, rute searah jarum jam dari kanan diwajibkan kepada umat Buddha. Acara kemudian dilanjutkan dengan mandi rupang Bodhisatta hingga puja bhakti menyambut detik detik Waisak. Namun, sebelum itu para bante dan umat membawa persembahan ke Dharma Sala atau tempat ritual untuk mempersiapkan mandi rupang Sidharta.

Ritual kemudian dipungkasi dengan meditasi yang berlangsung tepat pukul 21.19 lebih 13 detik. Saat meditasi, umat diminta merenungkan perilaku dan tindak-tanduk mereka selama hidup. ’’Padaksina artinya penghormatan objeknya ada di kanan. Mengikuti rute jalan mengelilingi patung Buddha tidur,’’ ungkap Sariyono, Upasaka Pandita Dharmapala Mahavihara Majapahit.

Sariyono menjelaskan, tidak ada yang berlebihan dari perayaan Waisak tahun ini. Semuanya berjalan seperti tahun sebelum-sebelumnya. Bahkan, tema yang dipilih untuk Dhammadesana atau pesan Waisak tak cukup berbeda dari Waisak tahun 2017 lalu. Yakni: Harmoni dalam Kebhinnekaan untuk Bangsa, yang akan disampaikan oleh Bikhu Sangha.

Dalam perayaan Waisak tadi malam, umat Buddha juga tak lupa untuk saling berbagi antarumat agama lain. Penghormatan dan keharmonisan bersama umat dan warga sekitar menjadi momentum apik dalam menangkal segala bentuk tindakan memecah belah bangsa. Keharmonisan ini yang sudah tertera dalam tema Waisak tahun ini.

’’Karena puncak Waisak tahun ini jatuhnya saat malam hari, jadi umat berkumpul sejak sore. Nah, saat itu bisa dimanfaatkan untuk buka puasa bersama dengan warga dan pengunjung sekitar yang menjalankan ibadah puasa,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia