Rabu, 22 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Diburu Densus 88 Antiteror, Enam Terduga Teroris Kabur

Senin, 21 May 2018 23:00 | editor : Mochamad Chariris

Tim Densus 88 Antiteror bersama petugas kepolisian saat menggerebek rumah Sutrisno di Desa Betro, Kec. Kemlagi, Kab. Mojokerto, Kamis (17/5).

Tim Densus 88 Antiteror bersama petugas kepolisian saat menggerebek rumah Sutrisno di Desa Betro, Kec. Kemlagi, Kab. Mojokerto, Kamis (17/5). (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Penangkapan tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri terhadap dua terduga teroris Sutrisno, 55, dan Lutfi Teguh Oktafianto, 26, bapak dan anak asal Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Kamis (17/5) terus menguak fakta baru.

Bagaimana tidak, polisi rupanya mendeteksi jumlah pelaku yang diduga terlibat dalam jaringan terduga teroris tidak hanya dua orang. Melainkan terdapat hingga delapan orang. Mereka teridentifikasi terlibat dalam kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD) yang berkembang di sejumlah daerah di Indonesia.

Hanya saja, upaya identifikasi tim Densus akan keberadaan delapan orang tersebut rupanya tidak berjalan mulus. Pasalnya, enam dari delapan orang yang diduga ikut terlibat dalam jaringan terduga teroris ternyata sudah mencium upaya penangkapan mereka.

Hingga mereka memilih untuk kabur dari kediaman masing-masing untuk menghindari kejaran petugas. ’’Masih ada jaringan lain yang beredar di wilayah hukum Polres Kota Mojokerto. Ada enam sampai delapan orang dan masih dalam pemantauan. Saat ini, tidak ada di rumah masing-masing,’’ ungkap AKBP Sigit Dany Setiyono, Kapolresta Mojokerto.

Sigit mengungkapkan, secara umum delapan orang termasuk Sutrisno dan Lutfi memiliki kedekatan satu sama lain. Artinya, masing-masing dari anggota memiliki hubungan sesuai peran mereka dalam menyebarkan ajaran jihad yang dipahami.

Selain itu, berdasarkan hasil identifikasi Densus, delapan orang masuk dalam jaringan JAD yang berafiliasi langsung dengan ISIS (Islamic State of Iraq-Syria). Akan tetapi, Sigit tidak bisa memberikan keterangan lebih jauh soal peran satu per satu dari anggota.

’’Mereka masuk dalam jaringan JAD yang langsung dalam pantauan Mabes Polri. Kita hanya sebatas back-up kepada rekan-rekan densus,’’ ungkapnya. Sebelumnya, Sutrisno kerap disebut sebagai salah satu pentolan kelompok JAT (Jamaah Anshorut Tauhid) di Mojokerto.

Sebutan tersebut tak lepas dari aksinya yang mengumpulkan jamaah di kediaman hingga mirip seperti pemondokan tahun 2011 silam. Namun, upayanya mendirikan pemondokan mendapat tentangan dari warga sekitar yang tidak setuju hingga harus melakukan upaya pembubaran paksa.

Di tahun yang sama, tempat tinggal Sutrisno sempat digeledah tim Polresta Mojokerto dan densus terkait keterlibatannya dalam aksi teror di beberapa daerah.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia