Minggu, 19 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Ribuan Santri Berikrar dan Melawan Paham Radikal

Senin, 21 May 2018 20:45 | editor : Mochamad Chariris

Para santri dan elemen lain menyatakan sikap menolak paham radikal di Ponpes Nurul Islam Pungging, Kab. Mojokerto.

Para santri dan elemen lain menyatakan sikap menolak paham radikal di Ponpes Nurul Islam Pungging, Kab. Mojokerto. (Nuris for Radar Mojokerto)

Kami Santri Bumi Pertiwi, taat pada ajaran ahlussunnah wal jamaah, bertanah air satu Tanah Air Indonesia. Berideologi Negara Satu Pancasila, berkonstitusi satu UUD 1945.

Kami menolak paham radikalisme yang bernuansa agama, ras, suku, ideologi dan berbagai kepentingan lainnya. Menolak dan mengecam keras segala bentuk  terorisme di bumi Indonesia tercinta.

ITULAH penggalan ikrar yang menggema di halaman Pondok Pesantren Nurul Islam, Pungging, kemarin. Dalam Apel akbar ini, ribuan santri menolak paham radikal dan aksi terorisme.

Tak hanya itu, para santri juga akan terlibat dalam memerangi berita bohong atau hoax. Dan siap membantu pihak keamanan untuk agar situasi aman dan kondusif.

Ikrar yang berlangsung di bawah terik matahari itu, tak menyurutkan semangat mereka yang tengah menjalankan ibadah puasa. Deklarasi ini dibacakan langsung pimpinan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, KH Ahmad Siddiq.

’’Kami keluarga besar pesantren menyatakan, menolak dengan tegas paham radikalisme dan terorisme. Karena tidak sesuai dengan ajaran Islam dan bertentangan dengan Pancasila,’’ katanya.

KH Siddiq menambahkan, pesantren harus bersinergi dan membangun kerja sama dengan TNI-Polri dan pemerintahan demi menjaga situasi Kamtibmas yang kondusif, aman dan damai.

’’Untuk mencegah paham radikalisme dan terorisme ini merupakan tugas bersama,’’ lanjutnya. Untuk memerangi langkah paham radikalisme, terorisme dan hoax, harus melibatkan potensi masyarakat.

Baik dari ulama, pemerintah dan elemen masyarakat. Apalagi, saat ini gerakan terorisme ini melibatkan keluarga terutama anak-anak. ’’Ini sudah mencederai rasa kemanusian terutama bagi dunia pendidikan. Dan diharapkan, orang tua mempunyai keterlibatan dalam membetengi anak dari bahaya ajaran radikalisme,’’ ungkap dia.

’’Teroris ini sudah tidak mempunyai rasa kemanusian dengan melibatkan keluarga dan anak-anak mereka. Karena itu, kami mengutuk keras tindakan ini karena tidak sesuai dengan ajaran agama,’’ imbuh KH Siddiq.

Sebagai langkah awal, anak-anak harus diberikan pemahaman pendidikan agama yang konsen pada prinsip yang universal dan rahmatan lilalamin. Yakni, ajaran Islam yang ahlussunnah wal jamaah.

Santri harus diberi wawasan kebangsaan dan nasionalisme. Apalagi, belakangan ini banyak ditemukan remaja yang sudah luntur rasa kebangsaan dan nasionalismenya. Serta menggelorakan cinta Tanah Air sebagai bagian dari spirit ajaran Islam.

’’Kita mengetahui betul, bahwa salah satu dari sekian banyak yang dipersoalkan dan ditentang oleh kelompok radikal adalah tentang cinta Tanah Air. Menurut kelompok radikal, nasionalisme tidak ada dalilnya dalam Quran. Memperkuat wawasan kebangsaan dan ke-Islaman. Sehingga akan tertanam pada diri mereka, bahwa menjaga NKRI merupakan bagian dari kewajiban santri,’’ tambahnya.

Kapolsek Pungging AKP Adam Muhari, yang hadir dalam ikrar itu, menyambut baik diselenggarakannya apel akbar dan ikrar santri yang menolak paham radikalisme dan terorisme oleh Pesantren Nurul Islam.

’’Yang bisa menjaga bangsa Indonesia ini adalah kita bersama. Pondok pesantren juga bisa ikut bersama kapolisian untuk menjaga bangsa Indonesia ini,’’ katanya.

Ia berharap, masyarakat meningkatkan kewaspadaan terutama warga di perdesaan. Jika menemukan warga baru yang mencurigkan, bisa dilaporkan ke aparat RT/RW dan desa. Lalu dilanjutkan  ke kepolisian.

Sebagai antisipasi sejak dini, pihaknya mengambil langkah bersama dengan muspika. Yakni, menggelar operasi yustisi  ke kos-kosan dan kontrakan.

Ketua MWC KH Imam Sobari, yang turut hadir dalam ikrar ini juga sangat mendukung semua langkah yang dilakukan pesantrean. dan mengapresiasi Ponpes Nurul Islam karena sejak dini bisa mengantisipasi adanya gerakan terorisme dan radikalisme.

"Ini langkah bagus dan bisa memotivasi lembaga yang lain untuk melakukan acara serupa. Dan ini bisa mencegah sejak dini terorisme, radilakisme, dan hoax,’’ pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia