Jumat, 17 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Saat Siswa SMK Kreatif Pamerkan Karya

Listrik Kincir Angin hingga Lampu Belajar Bertenaga Surya

Sabtu, 12 May 2018 20:00 | editor : Mochamad Chariris

Tiga siswa menunjukkan karya inovasi mereka yang dipamerkan di Pemkab Mojokerto.

Tiga siswa menunjukkan karya inovasi mereka yang dipamerkan di Pemkab Mojokerto. (Imron Arlado/Radar Mojokerto)

Tenaga listrik ramah lingkungan berhasil diciptakan sejumlah siswa SMK di Kabupaten Mojokerto. Mereka mampu menciptakan listrik yang dihasilkan dari kincir angin hingga tenaga surya.

BALING-BALING yang terbuat dari serpihan pipa PVC itu memutar pelan. Disangga pipa besi setinggi 4 meteran, kincir angin itu tak berputar kencang. Meski pelan, namun lampu bohlam 27 watt yang menggantung di tiang itu menyala terang.

Itulah karya siswa SMK Raden Rahmat Mojosari, Kabupaten Mojokerto yang dipamerkan di pelataran Pemkab Mojokerto, kemarin. Meski sederhana, namun karya ini mampu mencuri perhatian pengunjung.

Apalagi, Kabupaten Mojokerto saat ini  tengah getol memasang lampu penerangan jalan umum (LPJU) yang dialiri listrik PLN. ’’Ini memang cocok untuk penerangan jalan,’’ kata M. Ihsan Jazuli, seorang siswa.

Siswa kelas XI ini menambahkan, meski karya timnya tersebut sangat cocok diterapkan untuk LJPU, namun tak sembarangan tempat bisa dipasang. Listrik ramah lingkungan ini sangat tepat dipasang di lokasi dengan hembusan angin yang sangat kencang.

Di antaranya di kawasan pegunungan. Mulai Trawas, Pacet, Gondang dan Jatirejo. ’’Di sana, anginnya cukup bagus untuk menggerakkan kincir,’’ paparnya. Siswa lainnya, Agus Slamet Wiyono menerangkan, cara kerja kincir angin hingga menghasilkan listrik tersebut cukup sederhana.

Kincir tersebut disambungkan ke generator dan menghasilkan listrik 12 volt. Kemudian, listrik DC yang dihasilkan disimpan ke baterai. Di sinilah, alat berupa converter bekerja lalu mengeluarkan daya hingga 220 volt. ’’Akhirnya lampu bisa menyala,’’ beber dia.

Untuk menciptakan listrik ini, Agus menyebut, tak membutuhkan biaya mahal. Untuk satu tiang, hanya butuh Rp 1,5 juta saja. Sangat jauh jika dibanding dengan LPJU yang dipasang Pemkab Mojokerto, dengan tarif mencapai Rp 3 jutaan per tiang.

SMK Mutu Kemlagi juga memciptakan alat yang menarik. Yakni, lampu belajar bertenaga surya. Memanfaatkan limbah kayu, ciptaan siswa-siswa ini juga menjadi solusi bagi kawasan yang seringkali terjadi pemadaman listrik. ’’Awalnya, karena kita sering terkendala saat mati listrik. Tidak bisa belajar,’’ kata M. Bayu Pratama.

Bertenaga surya, bukan berarti lampu belajar ini harus dipapar sinar matahari. Namun, cukup terkena cahaya di siang hari sudah bisa menyimpan listrik. ’’Kalau ada jendela, cukup buka jendela saja. Tidak perlu dipanas-panaskan,’’ ujarnya. Dipatok seharga Rp 200-an ribu, alat ini mampu bertahan saat malam hari selama lima jam. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia