Senin, 20 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Berita Daerah

355 CJH Gagal Ibadah Haji, Akibat Tak Melunasi BPIH

Selasa, 08 May 2018 15:03 | editor : Mochamad Chariris

Jamaah haji Kab. Mojokerto tahun 2017 saat mengikuti manasik haji di kompleks IPHA Jabon, Mojoanyar, Mojokerto.

Jamaah haji Kab. Mojokerto tahun 2017 saat mengikuti manasik haji di kompleks IPHA Jabon, Mojoanyar, Mojokerto. (Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Jumlah calon jamaah haji (CJH) asal Kabupaten Mojokerto terus mengalami penyusutan. Total kini tinggal tersisa 1.260 orang saja.

Jumlah tersebut merosot hampir 22 persen persen dari penetapan kuota awal berjumlah 1.615 CJH. Hal itu menyusul masih banyak CJH belum melunasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) hingga penutupan Jumat (4/5) lalu.

Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Kabupaten Mojokerto, Mukti Ali, mengungkapkan, selama berlangsungnya pelunasan BPIH tahap pertama sejak dibuka 16 April hingga ditutup 4 Mei lalu, jumlah CJH belum melunasi tercatat ada 355 orang.

Jumlah tersebut menempati posisi terbanyak kedua setelah Kota Surabaya, dengan 393 CJH dari 38 kab/kota di Jatim. ”Dari 1.615 orang, yang melunasi hanya 1.260 orang,” paparnya, kemarin.

Mukti menyatakan, sebanyak 355 CJH tidak melunasi tersebut tidak lagi berkesempatan berangkat menuju Tanah Suci di tahun ini. Meski pelunasan BPIH akan kembali dibuka pada tahap kedua nanti. Pasalnya, pelunasan tahap kedua ini hanya dikhususkan untuk kuota asli dari CJH usulan.

Masing-masing diperuntukkan bagi CJH yang statusnya pernah berhaji, kemudian CJH yang mengajukan penggabungan keluarga, serta CJH mengajukan percepatan lanjut usia (lansia) beserta pendamping (muhrim). ”Jadi, 355 orang yang tidak melunasi sudah dipastikan masuk waiting list tahun depan,” paparnya.

Kendati demikian, pelunasan tahap kedua nanti juga membuka kesempatan bagi sejumlah CJH yang tak dapat melunasi akibat mengalami gagal sistem. Mukti menyebutkan, di antaranya adalah CJH gagal melunasi setelah terjadi kesalahan teknis data dari Bank Penerima Setoran (BPS) maupun dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).

Baik siskohat kesehatan maupun siskohat Kemenag. ”Ada yang sudah antre sampai hari terakhir tapi gagal sistem, itu nanti diberi kesempatan (melunasi) di tahap dua,” terangnya. Dia memastikan tidak ada CJH yang tidak bisa melunasi lantaran terkendala status tidak isthithaah (mampu).

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto telah merekomendasi semua CJH berstatus isthithaah. ”Walaupun ada yang isthithaah dengan syarat pendampingan,” imbuhnya. Mukti menambahkan, tingginya angka CJH yang tidak melunasi ini disebabkan dengan berbagai alasan.

Akan tetapi, kebanyakan disebabkan faktor pasifnya CJH yang telah mendapat kuota. Dengan kata lain, CJH sengaja tidak melakukan pelunasan karena alasan tertentu. ”Pasifnya mereka memang sudah disengaja tidak berangkat tahun ini. Rata-rata dengan alasan menunggu keluarga,” katanya.

Sebagaimana diketahui, penurunan jumlah CJH asal Kabupaten Mojokerto tidak terjadi kali ini saja. Sebelumnya, dari penetapan kuota awal berjumlah 1.737 CJH, 129 orang menyatakakan mundur. Sehingga hanya sisa 1.608 orang ditambah tujuh CJH cadangan.

(mj/ram/ris/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia