Senin, 20 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Miras Impor Dipalsukan, Cuma Dibanderol Rp 100 Ribu Per Botol

Senin, 07 May 2018 02:00 | editor : Mochamad Chariris

Kapolresta Mojokerto AKBP Sigit Dany Setiyono (tengah) menunjukkan hasil ungkap produsen miras impor palsu.

Kapolresta Mojokerto AKBP Sigit Dany Setiyono (tengah) menunjukkan hasil ungkap produsen miras impor palsu. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Mojokerto rupanya belum bisa lepas dari peredaran minuman keras (miras). Meski telah menelan puluhan korban jiwa saat pesta cukrik di malam pergantian tahun 2014 lalu, namun tak membuat kapok para pelaku dalam menyebarluaskan miras di tengah masyarakat.

Terutama di wilayah utara Sungai Brantas. Terbukti, Polresta Mojokerto kembali meringkus seorang pelaku produsen miras palsu yang beroperasi selama dua bulan terakhir. Muhammad Sudarman, 61, warga Perum Grand Park Jetis, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, ditangkap tim satreskrim pada Rabu (25/4), setelah kedapatan memproduksi miras oplosan.

Tidak hanya mengoplos, pelaku juga dengan sengaja memalsukan produk miras buatannya mirip dengan miras jenis impor berbagai merek yang dijual terbatas. Dalam proses produksinya, pelaku rupanya cukup handal dalam mengaburkan kemasan miras produksinya hingga terkesan mirip dengan aslinya.

Yakni, menggunakan botol bekas miras asli lalu diisi dengan cairan hasil inovasinya. Yakni, berupa campuran antara arak Jawa yang disadur dengan alkohol kadar 70 persen, minuman berenergi, dan bahan pewarna makanan. Sebelum dimasukkan ke dalam botol, cairan tersebut terlebih dulu didiamkan selama dua hari sebagai cara untuk meningkatkan taste atau rasa minuman tersebut mirip dengan aslinya.

Baru setelah itu, pelaku mengemas minumannya dalam bentuk yang cukup rapi. Selain menggunakan botol asli minuman impor, dia juga mengemas produksinya menggunakan tutup botol yang sama, lalu dipres menggunakan mesin pemanas. Bukan hanya kemasan dalam, kemasan luar berupa kardus dan stiker juga disamakan dengan produk aslinya hingga tak tampak jika produk miras tersebut sebenarnya palsu.

’’Botol-botol miras ini asli. Tapi, isinya dibuat sendiri oleh pembuatnya. Kita temukan juga alat untuk mengemas yang cukup profesional dan terlatih. Sehingga, kemungkinan produksinya tidak hanya sedikit dan baru saja, tapi sudah cukup lama,’’ ungkap Kapolresta Mojokerto, AKBP Sigit Dany Setiyono, kemarin.

Dari hasil pemeriksaan, pelaku mengaku baru mengoperasikan usahanya sekitar dua bulan sebelum penangkapan. Akan tetapi, pengakuan tersebut tak lantas membuat penyidik percaya begitu saja. Sebab, dari hasil identifikasi, pelaku terkenal cukup rapi dalam mengedarkan dan menyembunyikan identitias miras racikan agar tidak mudah terbongkar. Yakni, dengan hanya memproduksi miras saat ada pesanan atau by order. ’’Pasar pelaku ini khusus. Jadi, saat ada pesanan, baru dia memproduksi,’’ tambahnya.

Untuk harga, kata Sigit, tersangka menjual dengan harga yang terjangkau, yakni di kisaran antara Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per botol. Padahal, untuk jenis miras impor dengan merek yang sama, harga jualnya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan. Sehingga dalam pemasarannya pelaku bisa dipastikan diyakini tidak akan menembus ke tempat-tempat umum, seperti pusat hiburan karaoke atau pub.

’’Hasil pemeriksaan baru berjalan dua bulan. Dalam pembuatannya, pelaku ini belajar secara otodidak. Harganya sangat tidak masuk akal. Pastinya konsumennya adalah masyarakat umum yang awam atau kalangan menengah ke bawah. Sehingga cukup membahayakan dan berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Karena tidak sesuai dengan komposisi biasanya dan tentunya tidak mengikuti prosedur BPOM,’’ tambahnya.

Dalam penangkapan tersangka, di rumahnya petugas mendapati enam botol miras palsu dengan enam label berbeda siap edar. Lalu, terdapat 60 botol kemasan beserta alat pressnya yang disebut-sebut mampu menutupi tingkat kepalsuan miras hasil racikan mantan sopir taksi itu. Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan dua pasal dari dua undang-undang berbeda.

Yakni, pasal 386 KUHP tentang Produksi Miras yang ancaman hukumannya selama 4 tahun kurungan penjara. Dan UU nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang ancaman hukumannya selama 5 tahun kurungan penjara. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia