Jumat, 17 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Siswa Berkebutuhan Khusus Belajar Batik Tulis

Sedikit Pahami Teori, tapi Mampu Kuasai Teknik

Kamis, 03 May 2018 13:19 | editor : Mochamad Chariris

Mai Nur Hidayah dan Widyaningrum, siswi tunarungu SLB Negeri Seduri, Kec. Mojosari, Kab. Mojokerto saat praktik membatik.

Mai Nur Hidayah dan Widyaningrum, siswi tunarungu SLB Negeri Seduri, Kec. Mojosari, Kab. Mojokerto saat praktik membatik. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

Siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Seduri memiliki cara sendiri dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap tanggal 2 Mei. Kemarin, mereka melakukan belajar bersama dengan praktik batik tulis.

KETERBATASAN fisik tak menghalangi siswa penyandang disabilitas untuk mengasah bakatnya. Dengan dukungan sarana dan guru pembimbing, mereka akan memiliki kesemapatan yang sama untuk mengeksplore potensi dalam dirinya.

Bahkan, anak berkebutuhan khusus juga mampu menuangkan kreasinya dalam bentuk karya. Seperti yang dilakukan siswa SLB Negeri Seduri. Sejumlah anak tunarungu wicara mampu menghasilkan karya seni batik tulis dari hasil goresan tangannya sendiri.

Salah satunya adalah Mai Nur Hidayah, siswa kelas X SMALB tunarungu. Di sela jam sekolahnya kemarin, dia mempersiapkan wajan berukuran kecil yang diletakkan di atas tungku pemanas. Tungku itu berfungsi untuk menjaga bahan lilin agar tetap cair. Dengan telaten dia mulai mengambil canting sebagai media membatik.

Siswa yang akrab disapa Ida ini sesekali meniup ujung canting kemudian mulai mengoreskan ke kain batik. Tangannya kemudian mengikuti pola yang sudah dibuat di atas selembar kain putih. Keterampilan itu dia dapatkan saat mengikuti ekstra kurikuler batik tulis di sekolahnya.

Siswa asal Dusun Panjer, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging, ini mengaku, saat pertama kali mempelajari batik langsung tertarik dan mulai menekuni hobi barunya itu. ”Saya suka membatik, karena mudah,” ungkapnya dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh salah satu gurunya.

Ida mengatakan, tidak menemui hambatan selama kurun empat bulan mempelajari batik. Hanya saja, dia masih merasa agak sulit untuk membuat pola. ”Paling sulit untuk membuat pola,” paparnya. Kendati demikian, dia sudah berhasil menghasilkan karya seni batik tulis.

Salah satu karya yang sudah dihasilkan adalah batik motif bunga mawar. Karya tersebut dibuat ketika mengikuti seleksi Festival Lomba Seni Siswa nasional (FLS2N) tingkat Kabupaten Mojokerto yang berlangsung di SLB PKK Gedeg, akhir April lalu. Karyanya tersebut mampu mendapat terbaik ketiga.

Pun demikian dengan Widyaningrum, siswa SMPLB kelas VII ini juga mengaku cukup mudah memahami beberapa teknik membatik. ”Tidak sulit, batik itu mudah,” terang siswi asal Pacet ini. Bahkan, saat mengikuti ajang yang sama di FLS2N, karya batik motif bantengan yang dibuatnya mampu menyabet juara I. Dengan nomor tersebut, dia berhak mewakili siswa di kabupaten untuk ke jenjang Jatim.

Untuk menyelesaikan membuat motif batik dengan selembar kain ukuran sedang, dibutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Setelah itu, kemudian proses berikutnya. Yakni, colet atau dikuas warna lalu ditutup lilin lagi, pewarnaan, dan dilorot atau menghilangkan lilin dari kain.

Pembina ekskul batik SLB Negeri Seduri, Sudirman, menambahkan, di luar kondisi keterbatsan fisiknya, siswa SLB memiliki memiliki kelebihan dalam hal psikomotorik. Sedangkan, kendala umum yang paling sering terjadi adalah kendala pemahaman.

Karena untuk mengajarkan batik pada siswa berkebutuhan khusus, dia lebih sering memberikan contoh dibanding penyampaian teori. ”Misal teori sejarah batik, anak disabilitas tidak memahami betul. Tapi, mereka memiliki kelebihan secara psikomotorik, karena lebih dominan praktik langsung,” paparnya.

Bahkan, jika dilakukan pengajaran secara rutin, bukan tidak mungkin anak disabilitas mampu lebih cepat bisa dibandingkan anak normal pada umumnya. ”Karena mudah menghafal dan menirukan apa yang diajarkan. Jika diajarkan satu bulan penuh, saya kira mereka sudah bisa membatik mandiri,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia