Rabu, 22 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Pembantu Bupati Tanda Tangani Penyitaan Aset oleh KPK

Selasa, 01 May 2018 18:30 | editor : Mochamad Chariris

Mariyani, pembantu dan penjaga vila sekaligus rumah di Dusun Treceh, Desa Sajen, Pacet, Mojokerto, saat membuka pintu gerbang.

Mariyani, pembantu dan penjaga vila sekaligus rumah di Dusun Treceh, Desa Sajen, Pacet, Mojokerto, saat membuka pintu gerbang. (Khudori/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Suasana rumah pribadi sekaligus vila milik ayah Bupati Mustofa Kamal Pasa (MKP), H Jakfaril di Dusun Treceh, Desa Sajen, Kecamatan Pacet, mendadak sepi.

Kendati sejak Senin (1/5) MKP resmi ditetapkan tersangka sekaligus dilakukan penahanan oleh Komisi Pemberantasan Koruspsi (KPK) di Jakarta. Namun, tak banyak warga atau tetangga terdekat yang mengetahui saat ini orang nomor satu di pemkab tersebut telah menjalani proses hukum atas dugaan gratifikasi izin pemanfaatan ruang dan pendirian menara tower telekomunikasi tahun 2015 senilai Rp 2,7 miliar.

’’Kami belum tahu. Karena setiap harinya memang rumah ini sepi,’’ kata salah satu warga. Warga mengaku tidak terlalu mengikuti perkembangan dugaan kasus gratifikasi yang belakangan juga berimbas pada sistem pemerintahan dan keluarga pribadi MKP.

’’Yang saya tahu Rabu malam (25/4) memang ada ramai-ramai di sini. Katanya ada beberapa mobil milik Pak Bupati MKP di sita KPK. Tapi, jelasnya kurang tahu, karena saya tidak berani keluar,’’ bebernya. ’’Kaget juga dapat kabar kalau sekarang sudah di Jakarta dan ditahan KPK,’’ imbuhnya.

Di mata warga, selama ini, rumah dikelilingi tembok setinggi lebih dari dua meter tersebut memang sepi. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, rumah mewah berlantai dua dilengkap CCTV di setiap sudut rumah terlihat terkunci dari dalam. Terpantau hanya ada seorang penjaga di dalamnya. ’’Bapaknya (MKP, Red) nggak ada. Sekarang di Jakarta,’’ tutur pembantu dan penjaga rumah, Mariyani, kemarin.

Namun, pihaknya tidak tahu persis kapan dan bersama siapa MKP bertolak ke Jakarta. ’’Ke sana (KPK) sendiri. Apakah ke rumah saudaranya atau ke mana saya tidak tahu,’’ tuturnya. Meski sudah menjadi penjaga rumah kurang lebih selama 23 tahun, Mariyani, tidak tahu menahu soal kasus yang menjerat juragannya.

Pasalnya, rumah yang dibeli H Jakfaril tahun 1990-an jarang ditempati. ’’Kalau ke sini saat istirahat saja. Tidak pasti, kadang satu Minggu dua kali, kadang juga tidak sama sekali,’’ tuturnya. Disinggung soal penggeledahan sekaligus penyitaan dari rumah tersebut, Mariani membenarkan.

Kata dia, pada Rabu siang (25/4) memang ada sejumlah penyidik KPK datang ke rumah lengkap dengan surat izinnya. Selain melakukan penggeledahan rumah, KPK juga menyita aset bupati. Terdiri atas enam unit mobil mewah.

Di antaranya, Honda New CR-V nopol S 1001 NB warna hitam, Toyota All New Kijang Innova nopol L 1724 YY warna hitam, Subaru WRX AWD S 1168 P warna putih, Toyota Kijang Innova nopol S 1020 N warna abu-abu metalik, Daihatsu Gran Max nopol S 8021 NC warna putih, dan  mobil mewah jenis Ranger Rover nopol L 1213 HX warna merah marun.

Tak hanya itu, KPK juga menyita lima unit jet ski yang harganya ditaksir mencapai Rp 1,9 miliar. Dengan rincian masing-masing unit jet ski merek Sea-Doo impor dari Kanada ditafsir mencapai Rp 399 juta. Juga terdapat dua unit sepeda motor dengan nilai mencapai Rp 48 juta.

Berupa sepeda motor Yamaha NMAX warna putih dan Honda Sonic 150 CC warna merah putih. Penyitaan ini juga disertai surat pernyataan penyitaan oleh KPK yang juga ditandatangani Mariyani. ’’Siang sekitar pukul 11.00 saya tandatangani, malam harinya baru dibawa (mobil mewah dan jet ski),’’ tandasnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia