Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Komunitas Indonesia Escorting Ambulance (IAE)

Bantu Laju Ambulans, Garakan Kemanusiaan tanpa Imbalan

23 April 2018, 20: 49: 42 WIB | editor : Mochamad Chariris

M. Rafi (kanan) dan Rangga saat anggota IEA Mojokerto saat berada di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto.

M. Rafi (kanan) dan Rangga saat anggota IEA Mojokerto saat berada di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Berangkat dari keperihatinan atas rendahnya kesadaran pengguna jalan terhadap bunyi dan tanda lampu sirene ambulans, sekelompok pemuda berinisiatif untuk membantu memberikan pengawalan.

Dengan menggunakan motor, relawan yang mengatasnamakan Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Mojokerto ini membuka jalan demi kelancaran evakuasi maupun rujukan pasien ke rumah sakit.

MESKI baru terbentuk satu bulan yang lalu, namun kumpulan para relawan telah membantu sejumlah pasien untuk mendapatkan penanganan lebih cepat. Bukan dalam sisi tindakan medis, melainkan membantu kelancaran laju lalu lintas mobil ambulans.

Ya, ketepatan waktu ambulans saat membawa pasien emergency menjadi salah satu faktor yang bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Namun, kondisi jalan raya yang padat maupun macet dapat menghambat laju ambulans.

Mirisnya lagi, masih ada sejumlah pengguna jalan yang masih tidak mempedulikan dengan memberikan jalur. ’’Terkadang walau dengar suara sirene ambulans, pengendara tetap tidak mau menepi. Kan kasihan pasiennya, apalagi kalau kondisinya kritis,’’ ungkap Muhammad Rafi Syahfruddin, salah satu relawan IAE Mojokerto.

Atas alasan itulah yang kemudian mendorong Rafi dan kawan-kawan relawan lainnya untuk mendirikan IAE Mojokerto. Komunitas itu baru terbentuk pada pertengahan Maret lalu. Setidaknya, dalam waktu satu bulan ini mereka telah empat kali membantu pengawalan ambulans ke tempat tujuan.

Minimnya kesadaran pengguna jalan dia contohkan saat membantu evakuasi pada Jumat (20/4) lalu. Saat itu, mereka tengah mengawal pasien yang dirujuk menuju salah satu rumah sakit di Kabupaten Mojokerto. Namun, di tengah jalan, ambulans yang tengah membawa pasien kritis itu justru terlibat kecelakaan.

Rafi menceritakan, kecelakaan berawal ketika ambulans sudah melaju dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba dari arah bersamaan, ada sebuah mobil pikap yang hendak belok kanan.

’’Lampu dan suara sirene sudah menyala, kami juga telah memberi tanda dengan lampu dim, tetapi mobil pikap tetap tidak mau mengalah,’’ ujarnya.

Akhirnya, saat jarak ambulans dan pikap sudah dekat, pikap tetap berbelok hingga tabrakan tak bisa dihindarkan. Beruntung, insiden itu tidak sampai menelan korban.

Baik sopir ambulans maupun pasien yang ada di dalamnya selamat. Meski bagian depan ringsek, tetapi ambulans bisa tetap melanjutkan perjalanan hingga ke rumah sakit tujuan.

Siswa yang masih duduk di bangku kelas X SMKN 1 Kota Mojokerto ini menyatakan, saat ini anggota IAE Mojokerto sejumlah 14 orang relawan. Para anggota biasanya stand by di jalan-jalan protokol atau jalan raya yang biasa menjadi jalur evakuasi ambulans.

Bahkan, pada weekend, mereka juga membagi tugas dengan stand by tidak jauh dari rumah sakit maupun di jalur yang rawan terjadi kecelakaan. Seperti di jalur Pacet-Cangar.

’’Memang bukan untuk rujukan saja, tetapi kejadian yang membutuhkan penanganan cepat, seperti kecelakaan. Jadi, kalau ada ambulans lewat, kita akan langsung kawal,’’ tuturnya.

Agar lebih optimal, mereka juga berupaya untuk menjalin kerja sama dengan sopir ambulans, fasilitas kesehatan, hingga relawan dari Palang Merah Indonesia (PMI). Sehingga, jika sewaktu-waktu ada kejadian, bisa saling berkoordinasi.

Semantara itu, Rangga Permana Putra, salah satu anggota IAE Mojokerto lainnya, menambahkan, tidak jarang saat melakukan pengawalan, mereka menghadapi sejumlah kendala.

Salah satunya adalah pengendara yang bersikukuh enggan memberikan jalan pada ambulans yang sedang emergency. ’’Pernah ada mobil yang sepertinya memang tidak mau kasih jalan saat ada ambulans lewat,’’ ujarnya.

Untuk itu, mereka memiliki strategi sendiri untuk melakukan pengawalan. Dengan mengendarai motor, pengawalan dilakukan minimal dengan dua anggota. Jika jumlahnya lebih, formasi dibagi dua bagian.

Di depan ambulans berfungsi untuk membuka jalur, dan bagian belakang untuk mengawal agar kendaraan yang tidak berkepentingan mengikuti ambulans.

Pemuda yang juga masih tercatat sebagai pelajar kelas XII SMAN 1 Bangsal ini, menyatakan, aksi yang mereka lakukan murni sebagai garakan kemanusiaan dan tidak mengharap imbalan.

’’Tujuannya membantu buka jalan untuk ambulans, jangan sampai ada kejadian pasien meninggal gara-gara terlambat sampai rumah sakit,’’ pungkasnya.


 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia