Minggu, 22 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Tradisi Sedekah Bumi Desa Sukosari, Trawas

Arak 14 Ancak Hasil Bumi, Dibentuk Pesawat Tempur hingga Masjid

16 April 2018, 17: 39: 16 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga Dusun/Desa Sukosari, Kecamatan Trawas, mengarak ancak berupa kereta kencana.

Warga Dusun/Desa Sukosari, Kecamatan Trawas, mengarak ancak berupa kereta kencana. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

Warga Dusun/Desa Sukosari, Kecamatan Trawas, masih mempertahankan tradisi peninggalan nenek moyang mereka berupa sedekah bumi atau ruwatan desa.Sedekah bumi itu dituangkan melalui rangkaian prosesi sedekah dalam bentuk ancak atau gunungan yang diwujudkan berbagai bentuk.

RATUSAN warga larut dalam kemeriahan rangkaian prosesi sedekah bumi yang berlangsung di Dusun/Desa Sukorame, Kecamatan Trawas, Minggu (15/4). Tak hanya diikuti warga setempat, namun juga diikuti warga desa sekitar.

Sedekah bumi sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah keselamatan dan melimpahnya hasil panen. Acara itu diawali dengan mengarak sebuah ancak dibawa ke Punden Sentono.

Sebuah punden yang disakralkan warga setempat. Lokasi tersebut merupakan sebuah makam yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya nenek moyang yang babat alas Desa Sukosari. Ancak adalah media atau tempat untuk mewadahi hasil bumi berupa buah dan sayuran hasil panen, nasi, jajanan pasar, maupun makanan yang lain.

Jika pada umumnya ancak dibawa dengan dipikul ramai-ramai, kali ini warga Sukosari membuat ancak yang dimodifikasi layaknya kereta kencana. Meski dipasang dengan roda, namun tetap tak mengurangi kesakralannya.

Warga tetap mengarak beramai-ramai dari balai desa hingga ke lokasi punden dengan berjalan kaki. Rupanya cara tersebut cukup efektif untuk menghemat tenaga. Mengingat warga harus menempuh perjalanan lebih dari 1 kilometer.

Sesampainya di punden, rombongan disambut lantunan gamelan. Setelah diawali dengan pemanjatan doa, ancak kemudian menjadi rebutan warga yang telah berkerumun sejak pagi. ’’Berharap berkah dari sedekah bumi. Biar tetap diberi keselamatan dan rezeki yang banyak,’’ ungkap Rusmiati, warga Dusun Urung-Urung, Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas.

Kepala Desa Sukosari Purnaji, menjelaskan, sedekah bumi merupakan tradisi yang dilakukan menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Yakni, sebuah tradisi masyarakat untuk mendoakan nenek moyang dan leluhur desa.

Dia menyatakan, tradisi yang juga disebut ruwah desa itu juga sebagai wujud syukur masyarakat atas melimpahnya rizeki berupa hasil panen. ’’Sedakah bumi adalah bancakan atau berbagi. Segala hasil yang didapat warga, bisa dinikmati bersama-bersama,’’ ungkapnya.

Menurutnya, ancak kereta kencana yang diarak ke punden merupakan awal dari serangkaian prosesi yang dijalankan dalam sedekah bumi. Dalam tradisi tiga tahunan ini, warga secara bergotong-royong mempersiapkan sebanyak 14 ancak.

Menurut Purnaji, ancak tersebut merupakan hasil kreasi dari masing-masing rukun tetangga (RT). Desa Sukosari yang notabene hanya memiliki satu dusun itu terbagi tujuh RT, masing-masing-masing menyumbangkan dua buah ancak. ’’Ancak diarak dan dikumpulkan di balai desa,’’ paparnya.

Letupan ratusan kembang api menandakan warga untuk segera datang ke balai desa. Kemudian, secara berduyun-duyun 14 ancak dengan berbagai bentuk mulai diarak. Bentuk ancak terdiri dari gunungan yang berisi sayur mayur dan buah-buahan.

Ada juga yang berbentuk hewan, seperti kura-kura dan angsa yang berisi jajanan pasar. Bahkan juga ada yang bebentuk peswat tempur, mobil tangki, hingga masjid. Kemudian, semua isi dibagikan kepada seluruh warga yang hadir. ’’Malamnya akan ditutup dengan pertunjukan wayang,’’ pungkas Purnaji.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia