Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Siswa SD Peringati Hari Mendongeng Sedunia

Usung Cerita Rakyat, Terselip Pesan Nasihat

22 Maret 2018, 22: 10: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Siswa SDN Gedongan 3 Kota Mojokerto, saat mendongeng di peringatan Hari Mendongeng Sedunia di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto.

Siswa SDN Gedongan 3 Kota Mojokerto, saat mendongeng di peringatan Hari Mendongeng Sedunia di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Ngelmu iku, kalakone kanthi laku

Lekase lawan kas, tegese kas nyanto sani

Setyo budyo pangekese dur angkoro

BEGITULAH petikan tembang macapat yang dikutip dari Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta, yang dibawakan Lita Usui’il Arzaq, 10, mengawali cerita dongeng yang berjudul Dewi Arimbi.

Siswi kelas IV asal SDN Gedongan 3 itu mengisahkan Dewi Arimbi merupakan sebuah cerita rakyat lokal yang asal usul berdirinya Candi Bajangratu, di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Siswi akrab disapa Usi adalah salah satu penampil dalam ajang storytelling yang diselenggarakan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto, kemarin. Sambil mengenakan pakaian tradisional, Usi mulai bercerita.

Dalam kisahnya, Dewi Arimbi adalah seorang anak gadis remaja dari keturunan bangsa raksasa pada masa Kerajaan Majapahit. Wajahnya cukup menyeramkan, memiliki dua bola mata besar dan gigi yang bertaring. Sosok tersebut juga dilukiskan dalam media canvas yang digunakan media dongeng. ”Dengan media gambar supaya pendengar lebih paham ceritanya,” ujarnya.

Dewi Arimbi kemudian jatuh cinta pada bangsa manusia. Yaitu, Prabu Brawijaya yang tak lain adalah raja dari Kerajaan Majapahit. Dewi Arimbi kemudian meminta restu orang tuanya. Hingga Dewi Arimbi diubah dengan ilmu sihirnya menjadi bangsa manusia dengan penampilan yang cantik jelita.

Hal itu pun membuat Prabu Brawijaya tertarik dan kemudian meminangnya. Lalu, keduanya dikarunia calon buah hati. Saat usia kandungan menginjak sembilan bulan, Dewi Arimbi memakan daging segar. Saat itulah Arimbi kembali berubah menjadi raksasa yang menyeramkan.

Merasa malu, Dewi Arimbi pergi ke hutan dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Aryo Damar. Konon, Candi Bajangratu adalah candi yang dibangun Prabu Brawijaya untuk menyambut kelahiran bayi dari kandungan Dewi Arimbi.

”Dari kisah itu, kita sebagai manusia harus menjadi makhluk yang bersyukur,” tandasnya. Setiap cerita dongeng yang dibawakan selalu tersirat sebuah nasihat. Seperti dongeng berjudul bawang merah dan bawang putih yang dibawakan Cindi Adindasari, siswa asal SDN Mentikan 1. Cerita rakyat tersebut menggambarkan kisah perasaan iri terhadap saudara sendiri.

Dalam hal ini adalah bawang merah yang selalu iri dengan bawang putih, saudara perempuannya. Namun, atas perlakuanya itu, bawang merah mendapat karma yang setimpal dengan perbuatannya. Menurut Cindi, pesan yang disampaikan adalah agar selalu berbuat baik.

”Dari cerita ini kita bisa belajar, setiap keserakahan akan merugikan diri sendiri. Sedangkan perbuatan yang baik akan memunculkan kebaikan pula,” tandasnya. Kegiatan ini sengaja dilakukan di perpustakaan. Selain mengasah kemampuan mendongeng, juga bertujuan menumbuhkan minta baca.

”Agar melestarikan pengembangan minat dan budaya baca pada anak,” imbuh Kabid Perpustakaan Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto, Puspa Rini. Sebab, di era digital saat ini, memang sudah sangat jarang dijumpai praktik bercerita lisan atau mendongeng.

Untuk itu, menyambut peringatan Hari Mendongeng Sedunia kali ini, merupakan momen yang tepat untuk menumbuhkan kembali tradisi bercerita yang mulai luntur oleh perkembangan zaman.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia