Sabtu, 17 Nov 2018
radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader
Sa’dulloh Syarofi

Hindarkan Hati Jurnalismu dari Tendensi dan Asumsi Buruk

Rabu, 21 Mar 2018 23:55 | editor : Mochamad Chariris

Hindarkan Hati Jurnalismu dari Tendensi dan Asumsi Buruk

JIKA Anda mendengar atau melihat angka 17, apa yang pertama terbersit di pikiran? Jika Anda sebahasa sengan tulisan ini, kira-kira tebakan Saya kemungkinan besar benar.

Ya. 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia, secara kita memang lahir, tumbuh, dan berkembang di sini. Pemilihan angka tanggal kemerdekaan Indonesia itu bukan asal, inisiatornya adalah presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno sendiri.

Seperti yang tertulis dalam sejarah saat beliau berdialog dengan Soekarni yang mempertanyakan kenapa kemerdekaan tidak diadakan pada tanggal 16 saja. Beliau menjelaskan apa yang direncanakan sejak di Saigon. Bagi Pak Karno, 17 bukan sekadar cocoklogi angka. 17 Agustus adalah angka suci, kombinasi keramat, semacam ada sugesti magis, karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan, hari keramat Jumat, dan pasaran agung Legi.

Beliau juga menyinggung keterkaitan mistifikasi angka 17 sebagai tanggal turunnya Alquran, 17 Ramadan, dan jumlah total rakaat salat fardu dalam sehari. Bahkan jika dirunut, angka ini juga merujuk pada 17 Maret yang bertepatan dengan 17 Ramadan saat terjadinya pertempuran pertama kaum muslimin di padang Badar yang berhasil dimenangkan dengan gemilang.

Ada lagi? Ada. Dalam matematika, 17 adalah salah satu angka ”mandiri”, salah satu angka yang masuk dalam klub angka anti-bagi: bilangan prima. Prima merupakan bilangan non-komposit yang bahkan dianggap misterius oleh banyak kalangan, juga terkait dengan kegunaannya di dunia digital saat ini yang tidak bisa digantikan oleh bilangan komposit manapun.

Dari mulai Matematikawan kelas purba semacam Pythagoras hingga yang modern semacam Benford dan Plichta. Semuanya sibuk dengan keistimewaan klub angka ini. Yang keren, Alquran ternyata kumpulan kodifikasi rahasia angka-angka prima. Banyak peneliti matematika yang ternganga saat tahu bahwa susunan Alquran ternyata matematis sekali. Dan lakonnya sama: bilangan prima.

Ada lagi? Ada. Bagi remaja millennial, 17 adalah usia peralihan. Mereka menyebutnya: sweet seventeen. Di usia ini, anak-anak mulai menyebut dirinya remaja, mulai matang secara fisik dan psikis. Siap untuk menerima ”tantangan”. Bagi mereka, di usia ini sudah seharusnya mereka diizinkan untuk melakukan eksplorasi lebih banyak mengenai pahit-getir-manis dunia seisinya.

Konflik dan komunikasi akan mulai intens dan akrab sejak seseorang menginjak usia ini hingga pada saatnya mereka dewasa. Hal-hal yang pada saatnya menjadi vital dan remeh ketika mereka dewasa, ditentukan sejak usia ini. Ada lagi? Ada. Dalam Fisika memang banyak rumus, tapi soal hukum, ada 17 basic-law yang paling legendaris.

Hebatnya, hukum ini dikompilasi sejak zaman kuno. Cek saja. Dimulai dari Archimedes, lalu Galilleo Galillei, Snellius, Boyle, Pascal, Newton, Bernoulli, Coloumb, Boyle-Guy-Lussac, Dalton, Avogrado, Dulong & Petit, Ohm, Weidemann-Franz, Kirchhoff, Lenz, dan yang paling baru Stefan-Boltzmann.

Ini sekaligus acuan bagi orang tua yang anaknya dilamar cowok yang mengaku anak Fisika, tes saja 17 hukum ini secara acak. Tiga kali dia gagap menjawab, anggap saja belum hoki. Ada lagi? Ada. Bagi Anda yang suka dengan biologi, tentu tahu apa saja ilmu turunan dasarnya. Jumlahnya berapa? Ya, 17. Zoologi, mikrobiologi, fisiologi, entomologi, genetika, dan etologi. Untuk tumbuhan, ada Botani dan mikologi.

Untuk interaksi makhluk hidup, ada biokimia, bioteknologi, anatomi, biologi perkembangan, kriobiologi, sitologi dan biologi molekuler, biologi perkembangan, biologi evolusi, dan bio informatika.

***

Di dalam salah satu maha karyanya, Al-Arba’in fi Ushuli d’din, Al-Syaikh Al-Imam Al-Ghazali ra menulis tentang 17 juga. Yang ini keren: 17 dosa berdasarkan sumbernya secara anatomi. Menurut beliau, ada 6 bagian tubuh manusia yang berpotensi ”memanen” dosa dalam aktivitasnya.

Empat dosa dari gerakan hati, 4 dosa dari gerakan lisan, 3 dosa dari gerakan perut, 2 dosa dari gerakan kemaluan, 2 dosa dari gerakan tangan, 1 dosa dari gerakan kaki, dan 1 sisanya berasal dari seluruh tubuh. Kombinasi yang unik kan?

Empat dari gerakan hati adalah menduakan-Nya, membiasakan maksiat kepada-Nya, putus asa dengan rahmat-Nya, dan merasa aman dengan siksa-Nya. Empat dari gerakan lisan meliputi kesaksian dusta, tuduhan rekayasa, mengguna-guna, dan sumpah palsu.

Tiga dari gerakan perut jika minum minuman keras, memakan harta milik yatim, dan menikmati riba. 2 dari gerakan kemaluan sudah pasti zina dan hubungan sejenis. Dua dari gerakan tangan tidak lain adalah menghilangkan nyawa dan harta orang lain tanpa hak. Satu dari gerakan kaki jika secara pengecut seseorang lari dari peperangan. Dan satu terakhir dihitung sebagai dosa sekujur tubuh: durhaka kepada kedua orang tua.

Istimewanya, meski dosa-dosa ini munculnya independen—bisa dari sumber mana pun dulu, tapi secara eksplisit semua kitab tentang akhlak mengingatkan bahwa dari mana pun dosa diinisiasi—jika tidak segera disadari dan dimohonkan ampunan—akan merembet menjadi pemicu tumbuhnya dosa-dosa lain, biasanya dari sumber yang sama dulu, lalu merambah sumber lain.

Itulah kenapa cara untuk menanggulangi gen yang terindikasi jahat tidak selalu dari titik masalah, tapi diidentifikasi dulu apakah kejahatan yang terjadi itu merupakan permulaan atau imbas dari kejahatan lain yang tumbuh sebelumnya. Dengan memotong sumber awalnya, biasanya seluruh jaringan dosa yang terkait akan ikut luruh. Unik lagi kan?

***

Milad Mubarak, Jawa Radar Mojokerto Ke-17

Semoga ke depan, 17-mu adalah 17-nya Matematika, bagian dari keluarga besar independensi, karang yang tak lekang ditekan teriknya godaan asumsi dan hempasan ombak tendensi. 17-mu adalah 17-nya Fisika, hukum dasar jurnalistik yang menjadi sebaran rumus-rumus pemberitaan yang netral dan akuntabel. 17-mu adalah 17-nya Biologi, berbagai cabang penggalian pemberitaan tetap saja berujung pada satu tujuan utama: fakta.

Jangan sampai, 17-mu adalah sumber munculnya dosa. Hindarkan hati jurnalismu dari tendensi dan asumsi buruk, jauhkan lisan mereka dari berita hoax, jangan isi perut mereka dengan under-table money, tutup kemungkinan mereka melacurkan prinsip, gerakkan pena mereka menjauhi fitnah, arahkan kaki mereka melangkah ke sumber yang benar, dan terakhir, jangan durhaka dengan indukmu.

Baaraka Llahu lana.

*)Penulis adalah pengasuh PP Salafiyah Al Misbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto dan pengamat sosial.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia