Senin, 20 Aug 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Mahasiswa STIT Raden Wijaya Tuntut Dosen Dipecat

Rabu, 07 Feb 2018 13:00 | editor : Mochamad Chariris

Mahasiswa STIT Raden Wijaya, Kota Mojokerto, saat berorasi dan menggelar spanduk.

Mahasiswa STIT Raden Wijaya, Kota Mojokerto, saat berorasi dan menggelar spanduk. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Tidak terima dengan kabar miring soal dugaan perbuatan asusila di lingkungan kampus, sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Raden Wijaya, Kota Mojokerto, kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan kampus Selasa sore (6/2).

Aksi tersebut digelar untuk menuntut ketegasan pimpinan STIT atas kabar asusila diduga telah dilakukan seorang dosen berinisial HN, terhadap mahasiswinya sendiri dua tahun silam. Mereka menuntut sanksi pemecatan terhadap HN yang dinilai telah mencemarkan nama baik kampus.

Dalam aksi tersebut, sejumlah mahasiswa tidak hanya berorasi soal kronologi dugaan asusila HN kepada mahasiswinya berinisial Ir. Tapi, juga menaburkan bunga tujuh rupa di sejumlah ruang perkuliahan dan dosen.

Tabur bunga tersebut diungkapkan sebagai simbol berkabungnya civitas akademika yang belum mampu berbuat banyak dalam menuntaskan kasus tersebut. Di mana kabar asusila telah tersebar luas selama dua tahun belakangan.

Koordinator aksi, Ulbi Nida mengungkapkan, aksi kali ini adalah wujud keprihatinan dari mahasiswa atas situasi yang membelenggu kampusnya selama ini. Di mana, kampus yang seharusnya bernuansa agamis justru dikotori dengan kabar miring asusila yang dilakukan oleh oknum dosen.

Padahal, lanjut Ulbi, seorang dosen yang notabene adalah pendidik seharusnya memiliki integritas dan moral yang baik demi menjaga marwah pendidikan. ’’Ya, sebagai dosen seharusnya tidak berbuat ceroboh dengan bertindak asusila. Kita sudah memperingatkan pihak kampus dan yayasan untuk memproses sejak dulu. Namun, tidak ada tindakan tegas,’’ katanya.

Tidak hanya orasi, Ulbi dan puluhan mahasiswa lainnya juga menuntut pihak rektorat sesegera mungkin memecat oknum dosen tersebut. Hal ini tak lepas dari sanksi sebelumnya yang telah diterima HN.

Yakni, diturunkan dari jabatannya sebagai salah satu kepala sekolah (Kasek) SMP negeri oleh Pemkab Mojokerto, dan menjadi guru biasa pada akhir tahun 2017 akibat kasus yang sama.

”Kita menuntut dipecat dari jabatannya sebagai dosen dan ketua 1 kampus. Karena kabar  tersebut sudah merisaukan perkuliahan,” imbuhnya.

Perwakilan mahasiswa sempat ditemui pihak kampus atas tuntutan yang mereka minta. Dalam pertemuan itu, pihak kampus mengaku sudah memberikan sanksi tegas berupa administrasi. Sanksi tersebut tertuang dalam surat Yayasan Nomor 32/I.PT/PPPT-RW/1/2018 yang mengacu pada UU Nomor 12 Tahun 2012, AD/ART serta Statuta Kampus STIT Raden Wijaya.

Yakni, mengambil langkah win-win solution kepada pihak kampus untuk menjaga kondusifitas kampus, dan mengusulkan HN tidak terlibat dalam restrukturisasi ketua STIT Raden Wijaya di periode berikutnya. ”Sudah ada surat dari yayasan untuk ketegasan atas berita yang tersebar,” tandas Ketua Kampus Raden Wijaya, Ahmad Fatih.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia