Senin, 21 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Hujan Angin Terus Mengancam, sampai Tujuh Hari ke Depan

03 Februari 2018, 15: 15: 02 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Jawapos.com)

MOJOKERTO – Cuaca esktrem baik hujan deras dan angin kencang yang menggelayuti kawasan Mojokerto dan sekitarnya sejak tiga hari terakhir diperkirakan tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Pasalnya, puncak musim hujan diprediksi masih terus bergulir hingga pertengahan Februari atau seminggu ke depan. Situasi tersebut yang memunculkan tingkat kekhawatiran tersendiri akan dampak dari kondisi alam di Mojokerto.

Selain ancaman banjir dan tanah longsor akibat derasnya air hujan, robohnya sejumlah bangunan dan pohon juga tak dapat diremehkan. Hal itu disebabkan tiupan angin yang memiliki kecepatan tinggi.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofsika (BMKG) Perak Surabaya, hujan intensitas tinggi masih akan berlangsung di kawasan Mojokerto sampai tujuh hari ke depan. Hujan tinggi tersebut tak lepas dari siklus cuaca yang sudah memasuki grafik puncak. Yakni, dengan curah hujan mencapai 500 mililiter kubik per jam.

Ukuran tersebut melebihi separo dari curah hujan sebelumnya yang berkisar hanya 250 sampai 300 mililiter kubik per jam. ’’Curah hujannya masuk dalam kategori yang tertinggi selama musim hujan tahun ini. Sangat diwaspadai untuk masyakarat yang tinggal di kawasan berdekatan dengan sungai besar,’’ terang Mochamad Zaini, kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, kemarin.

Berdasarkan prediksi BMKG pula, situasi hujan biasanya melanda di saat jam pulang kantor atau sore.  Guyuran itu sampai malam hari antara pukul 15.00 sampai 21.00. Tidak hanya hujan biasa, cuaca esktrem tersebut biasanya juga disertai dengan embusan angin kencang.

Bahkan, catatan laju angin yang membawa awan cumulonimbus itu sebagai yang terburuk dari musim hujan sebelum-sebelumnya. Yakni, melebihi 25 knots atau setara 45 kilometer per jam. Bahkan bisa mencapai 54 kilometer per jam sebagai kecepatan tidak biasa. Ketidakwajaran embusan angin juga menyajikan fenomena lain dari yang lain.

Yaitu, arah tiupan angin menuju barat daya dan barat laut. ’’Awan mendung datangnya sangat cepat. Sangat diantisipasi untuk para pengendara jalan raya saat jam pulang kantor. Karena rawan pohon tumbang di jalanan,’’ tegasnya.

Zaini menjelaskan, cuaca esktrem tersebut jelas sangat membahayakan warga. Sebab, ancaman banjir bandang, tanah longsor, dan bangunan roboh tak dapat dihindari jika tidak diantisipasi lebih dini. Dari peta mitigasi yang berhasil dikumpulkan BPBD, kawasan rawan masih melanda dataran tinggi bagian selatan Mojokerto yang berkontur pegunungan.

Terutama di tiga desa di Kecamatan Gondang. Dilem, Kalikatir, serta Begagan Limo. Selain kondisi tanahnya yang labil, belum selesainya revitalisasi jembatan dan tanggul sungai menjadi ancaman baru munculnya kembali banjir bandang dan tanah longsor. Lalu juga kawasan bantaran Sungai Sadar di Kecamatan Mojoanyar mulai dari Desa Gebangmalang, sampai di Desa Jotangan Kecamatan Mojosari.

Di mana banjir menjadi situasi yang lumrah terjadi karena luapan anak Sungai Brantas itu. Lagi-lagi penyempitan tanggul dan pendangkalan dasar sungai dituding sebagai biang atas banjir langganan itu. ’’Pengerjaan proyek jembatan dan plengsengan di Desa Dilem dan Kalikatir kan belum selesai. Kalau soal Sungai Sadar, itu sudah disadari warga sekitar karena memang tidak ada upaya revitalisasi dari pengelola sungai,’’ tegasnya.

Untuk angin kencang, Zaini juga cukup mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di kawasan Trowulan, dan empat kecamatan di utara sungai. Kecamatan Gedeg, Jetis, Dawarblandong, dan Kemlagi. Sebab, arah angin berembus menuju ke kawasan Mojokerto sebelah barat daya dan barat laut itu.

’’Yang rawan itu biasanya adalah bangunan semi permanen yang berada di persawahan dan tanah lapang seperti kandang ayam atau pembuatan batu bata,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia