alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarmojokerto
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Dokumen Palsu Dimanfaatkan Sales Perkreditan Penuhi Target

27 Januari 2018, 15: 50: 30 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata saat menginterogasi salah satu tersangka.

Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata saat menginterogasi salah satu tersangka. (Khudori Aliandu/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Satreskrim Polres Mojokerto terus mendalami kasus pemalsuan dokumen kepolisian dan negara. Terbaru, kasus yang menyeret tiga orang sebagai tersangka ini diduga kerap disalahgunakan sebagai alat penipuan di perbankan.

Yakni, untuk mencairkan uang atau membuka kredit. Selain itu, banyak dimanfatakan sales perkreditan kendaraan untuk memenuhi target perusahaan. ’’Sekarang mengembang pada tindak pidana penipuan,’’ ungkap Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP M. Solikhin Fery, kemarin.

Dokumen yang dipalsukan Ahmad Shofi’i berupa KTP, KK, NPWP, KTP, akta nikah, dan PBB, kerap digunakan untuk mengajukan kredit di sebuah bank dan leasing. Sebagian besar, modus ini dimanfaatkan bagi mereka yang sudah di-blacklist atau masuk daftar hitam. ’’KTP yang sudah di-blacklist supaya bisa lolos pinjam ke bank, mereka membuat KTP palsu dengan NIK baru (palsu, Red),’’ tambahnya.

Fery mengungkapkan, memang belakangan ini para pelaku dikenal cukup cerdik. Selain paham betul soal informasi teknologi (IT), mereka diduga mengetahui cela data yang akan dipalsukan. Seperti KTP dan semacamnya. Secara acak, tersangka akan mencetak KTP baru untuk dijadikan modus tindak pidana penipuan konsumen. Di perbankan, leasing atau jasa penyedia pinjaman uang.

Cetakan KTP dan NIK palsu dijamin pelaku tidak akan diketahui atau dicurigai instansi yang dituju. Apalagi, para pelaku menilai sistem perkreditan selama ini belum terlalu ketat. ’’Jadi, kuncinya di NIK. Karena pada prinsipnya, tidak mungkin ada NIK yang sama. Kalau nama banyak yang sama,’’ bebernya.

Dengan dokumen itu, para konsumen lantas mengajukan aplikasi kartu kredit di bank. Selanjutnya, tagihan tak dibayar karena data-datanya palsu. ’’Kalau toh benar ada, bank juga tak bisa melacaknya, karena datanya palsu. Begitu juga saat mengajukan kredit mobil atau sepeda motor,’’ tambah Fery.

Modusnya sudah terstruktur dengan rapi. Selain melayani pemalsuan data, pelaku diduga sering bekerja sama dengan oknum instansi penyedia  pinjaman uang. Selain untuk mencari kuntungan lebih secara pribadi, para oknum tersebut juga untuk memenuhi target yang sudah dipasang oleh setiap perusahaannya masing-masing.

’’Artinya, digunakan pengajuan kredit-kredit fiktif untuk mengelabui pihak perusahaan supaya bisa lolos verifikasi atau lolos survei,’’ bebernya. ’’Jadi, antara survei, marketing atau sales, dan bagian kredit diduga ikut bermain,’’ imbuhnya. Untuk membongkar sindikat ini, penyidik masih akan terus melakukan pulbaket. Sembari menunggu pihak perbankan yang dimungkinkan sudah menjadi korban atas dokumen yang dibuat komplotan ini melapor.

Apalagi, dari hasil pemeriksaan, terungkap selama tiga tahun beroperasi, komplotan sindikat pemalsuan dokumen negara ini sudah menyetak ratusan dokumen palsu. Rinciannya, terdiri atas 75 lembar SKCK, 50 SIM, 30 lembar ijazah dan 25 KTP. ’’Ratusan dokumen ini juga sudah beredar di tengah masyarakat,’’ tegasnya.

Ahmad Shofi’i, pemeran utama mengaku selama ini dirinya memang biasa melayani dokumen palsu dari pihak marketing sejumlah perbankan. Di sisi lain, konsumennya dituntut kerja target dan bonus. ’’Dan, rata-rata, memang mereka konsumen langganan saya,’’ katanya. Sehingga, dari tiga tahun beroperasi, dokumen yang dibuatnya lebih banyak untuk mengelabuhi lembaga pembiayaan kredit kendaraan bermotor atau perbankan.

’’Sebenaranya mudah. Semunya bisa. Tapi, dengan kemiripan yang hampir 90 persen dan mengubah NIK, itu ada ilmunya,’’ bebernya. Dia mengakui dari banyaknya KTP yang dibuat banyak yang tembus atau lolos verifikasi oleh perbankan saat mencairkan uang pinjaman.

Sehingga, bagi yang sudah berhasil dan lolos, tak jarang mereka kembali dan menggunakan teknis yang sama untuk melakukan pinjaman di beberapa bank. ’’Saya tidak tahu bisa cair berapa. Saya juga tidak dapat bonus,’’ kilahnya.

Sebelumnya, ada tiga pelaku ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Masing-masing Kamid, 40, Dusun/Desa Pugeran; Pujiono, 43, Dusun Tlasih,  Desa Tawar; dan Ahmad Shofi’i, 50, warga Dusun Wates, Desa Centong,  Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Ketiganya diduga bersekongkol dan berperan manjadi penyedia jasa pembuat dokumen palsu yang diperjualbelikan. Seperti SIM,  KTP, KK, SKCK,  akta nikah, PBB, dan ijazah. Aksi pemalsuan ini disinyalir sudah berlangsung selama tiga tahun. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia