Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

3.349 Perempuan di Mojokerto Berstatus "Rondo Teles"

24 Januari 2018, 16: 01: 52 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Jawapos.com)

MOJOKERTO – Sejak tahun 2017 sampai awal tahun 2018 ini, kasus perceraian di Mojokerto didominasi gugatan pihak istri ketimbang suami. Pengadilan Agama (PA) Mojokerto menyebutkan, pada tahun 2017 lalu setidaknya ada 3.759 perkara ditangani.

Meliputi 2.245 kasus cerai diajukan oleh pihak istri. Sedangkan, sisanya 1.105 perkara diajukan pihak suami. Ini berarti, jumlah pengajuan cerai gugat lebih banyak ketimbang cerai talak. Mereka yang mengajukan masalah perceraian tersebut tercatat sebagai warga Kabupaten dan Kota Mojokerto.

”Belum berakhir bulan Januari, gugatan istri sudah lebih dari dua kali lipat daripada suami,” terang Sofyan Zefri, Humas PA Mojokerto, kemarin. Perginya suami dari rumah dituding sebagai penyebab terbesar istri melayangkan gugatan. Hingga Minggu (18/1), PA mencatat 197 perkara masuk diajukan pihak perempuan. Dan hanya 73 diajukan dari pasangan laki-laki.

Dia menjelaskan, sebagian besar kasus cerai gugat yang masuk merupakan perkara yang didasari karena pihak suami meninggalkan istri. Pihak istri yang ditinggalkan banyak mengeluh tidak pernah dihubungi lagi ketika pihak suami memutuskan pergi meninggalkannya.

Status istri yang menjadi tidak jelas dan digantungkan, bahkan tidak lagi menerima nafkah menjadi penyebab kuat berakhirnya rumah tangga mereka. Selain karena ditinggalkan, alasan lain di balik gugatan cerai adalah permasalahan ekonomi. Pihak istri sering mengeluh akibat suami tidak dapat lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga yang meningkat.

Alasan terbanyak pihak suami meninggalkan istrinya adalah pamit bekerja di luar kota, namun tak kunjung memberi kabar dan pulang. ”Yang kedua, karena kurang diberi nafkah. Kebanyakan pihak istri merasa uang Rp 50 ribu per hari tidak lagi cukup dengan kebutuhan akhir-akhir ini semakin meningkat,” ungkapnya.

Zefri menambahkan, pihaknya sebenarnya selalu mengajukan mediasi terlebih dahulu sebelum melanjutkan proses perceraian. Dalam tahun 2017, jumlah perkara pada tingkat pertama yang telah dilakukan mediasi sebanyak 582 perkara dengan tingkat keberhasilan 17,7 persen.

”Meskipun tidak sampai 50 persen yang berhasil di mediasi, tapi kami selalu berusaha untuk pasangan suami istri yang datang ke PA tidak serta merta langsung dikabulkan untuk bercerai,” tandasnya. Di tahun 2017 kemarin, perkara yang dapat ditangani dan berhasil diputus juga mengalami peningkatan.

Dari jumlah 3.759 perkara, telah diputus sebanyak 3.349 atau sekitar 89,09 persen. Dengan demikian, selama tahun 2017 lalu terdapat 3.349 perempuan menyandang status janda baru atau rondo teles.

”Dibandingkan dengan tahun 2016, jumlah beban penanganan perkara di tahun 2018 mengalami kenaikan 0,98 persen dari tahun 2016. Dalam penanganan perkara atau putusan pun mengalami kenaikan sebesar 0,96 persen,” pungkas Zefri. (ros)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia