alexametrics
Rabu, 27 Jan 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Penyakit Jantung Kini Mulai Serang Usia Muda

02 Oktober 2017, 19: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Jawapos.com)

MOJOKERTO – Setiap tanggal 29 September diperingati sebagai hari jantung sedunia. Namun, tak banyak kegiatan atau ajakan untuk meningkatkan kesadaran masayarakat akan pentingnya menjaga kesehatan jantung.

Padahal, tren penyakit jantung di Kabupaten/Kota Mojokerto masih cukup tinggi. Hal itu ditandai dengan semakin meningkatnya kunjungan pasien ke poli jantung di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto.

Setidaknya, rata-rata kunjungan pasien menembus seribu orang per bulan. Rumah sakit pelat merah itu mencatat, selama Januari hingga Juli lalu, kunjungan ke poli jantung menempati urutan tertinggi kunjungan terbanyak dibanding belasan poli lainnya.

Selama rentang 7 bulan tersebut, jumlah kunjungan mencapai 8.705 pasien. Artinya, setiap rata-rata melayani 1.200 kunjungan per bulan. Dokter spesialis jantung, Revi Adheriyani mengungkapkan. meningkatnya tren penyakit jantung disebabkan oleh berbagai faktor risiko.

Salah satunya akibat gaya hidup tidak sehat. Di antaranya, kurang berolahraga, sering makan makanan instan atau junk food dan merokok. ”Budaya jalan kaki dan naik sepeda (onthel) juga jarang. Banyak konsumsi makanan instan dan tinggi kolesterol,” ungkapnya kemarin.

Itulah mengapa, penyakit jantung yang dulu identik dialami oleh orang lanjut usia, kini mulai bergeser menyerang usia muda. Revi menyatakan, keluhan terbanyak yang dialami pasien adalah penyakit jantung hipertensi.

Penyakit darah tinggi sangat berkorelasi dengan kesehatan jantung. Sebab, hipertensi yang berlangsung lama akan mampu membuat otot jantung menjadi menebal. Jika sudah demikian, penderita bisa mengalami gejala sesak napas.

Namun, gejala tersebut seringkali terlambat diketahui. Pasalnya, kebanyakan pasien yang datang ketika sudah mengalami gejala. ”Selama ini, dilemanya adalah pasien tidak berobat karena merasa tidak gejala. Padahal, darah tinggi tidak harus menunggu gejala, tetapi dilihat dari tensinya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, terbanyak berikutnya adalah penyakit jantung koroner (PJK). Secara umum, PJK lebih rentan menyerang laki-laki dibanding perempuan saat usia produktif.

Namun, ketika sudah memasuki masa manapouse, perempuan bisa lebih berisiko. Hanya, hal itu juga tergantung dari riwayat penyakit penyerta yang mampu memicu penyakit jantung. ”Jantung koroner bisa dipicu dengan faktor risiko usia, jenis kelamin laki-laki, kolesterol, diabetes dan darah tinggi,” ujarnya.

Revi menambahkan, tren PJK saat ini juga mulai mengalami pergeseran menyerang di usia muda. Selain disebabkan penyakit penyerta, seperti diabet, darah tinggi, maupun kolesterol, hal itu dipengaruhi gaya hidup tidak sehat. ”Ada yang usia 21 tahun sudah kena serangan jantung koroner. Penyebabnya, karena dia (pasien) perokok berat. Merokok sangat dominan memicu penyakit jantung saat ini,” paparnya.

Sakit jantung koroner bisa berisiko pada kondisi serangan jantung yang bisa menjadi penyebab kematian mendadak. ”Yang mematikan itu kalau dalam kondisi serangan jantung,” katanya. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau mengenali gejala sejak dini. Revi merincikan, gejala yang bisa dialami serangan jantung koroner adalah rasa nyeri di bagian dada dan tembus ke punggung, serta bisa menjalar ke lengan kiri.

Sering kali juga disertai keluar keringat dingin. Dia menyebutkan, pada umumnya gejala tersebut tidak kunjung membaik selama 20 menit. ”Jika mengalami seperti itu langsung dibawa ke rumah sakit. Supaya tidak terjadi hal-hal yang fatal, karena bisa jadi itu tanda serangan jantung,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya