Minggu, 22 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Laporan Haji, A. Basuni dari Makkah

Tower Zamzam, Aktivitas Perdagangan Tutup saat Azan

15 September 2017, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Tower Zamzam di Kota Makkah merupakan bangunan paling dekat dengan Masjidilharam. Di dalamnya terdapat hotel, apartemen dan mal.

Tower Zamzam di Kota Makkah merupakan bangunan paling dekat dengan Masjidilharam. Di dalamnya terdapat hotel, apartemen dan mal. (A. Basuni/Radar Mojokerto)

MAKKAH – Seusai menunaikan Salat Ashar di Masjidilharam, sebagian jamaah biasa memanfaatkan waktu luang menunggu waktu Salat Magrib sambil bersantai di Tower Zamzam. Hotel ini persis berada di depan pintu King Abdul Aziz, Masjidilharam. Memiliki tanda jam besar. Dan merupakan bangunan paling menjulang tinggi di Kota Makkah. Di atasnya terdapat simbol sabit.

Bangunan ini didirikan pada 28 November 2002 oleh Raja Abdullah Bin Abdul Aziz. Dan, menjadi bagian dari komplek Abraj Al Bait Tower. Selain Hotel Grand Zamzam, di dalamnya akan ada Hotel Marwa Arry-haan, Movenpick, Fairmont, Raffles dan Swiss Hotel. Direncanakan, komplek perhotelan tersebut mampu menampung kurang lebih 3 ribu kamar dan apartemen.

Nah, begitu memasuki pintu gerbang Tower Zamzam, suasana yang terasa seperti di Tunjungan Surabaya (TP) atau di Sunrise Mall, Mojokerto. Lantai dasar merupakan pusat Grand Shopping Center yang dipenuhi showcase produk dengan merek terkenal. Di dalamnya menjadi satu dengan supermarket. Untuk food court dipusatkan di lantai 3 dan 4. Di situ tersedia konter KFC, Pizza Hut dan lainnya. Termasuk masakan khas Indonesia, Malysia, dan Arab Saudi.

”Kebanyakan jamaah haji berbelanja berasal dari negara-negara yang menggunakan haji plus,” ujar Lailatul Nurul Khasanah, salah satu jamaah asal Kabupaten Mojokerto. ”Alhamdulillah, kita bisa ketemu teman-teman sekaligus reunian,” imbuhnya.

Di tempat ini, jamaah haji bisa booking tempat untuk sekadar makan bersama sesama rombongan jamaah haji. Salah satunya dilakukan oleh rombongan haji plus asal Jakarta. Sebelumnya, rombongan ini sudah bekerja sama dengan restoran Indonesia di lantai 4. Model santap siang dan malam pun didesain laiknya restoran. Menggunakan sistem prasmanan.

”Saya bersama teman-teman mencoba makan bareng di makanan cepat saji. Tak terasa Azan Magrib pun berkumandang dari dalam Masjidilharam,” katanya. Mendengar suara panggilan salat, pengunjung dan pemilik toko bergegas menutup dan meninggalkan toko. Mereka lalu mengambil air wudhu dan mengambil saf di dalam hotel untuk mengikuti Salat Magrib berjamaah. Saf di lantai hotel dan mal pun didesain menghadap ke arah kiblat.

Sehingga, meski salat berada dalam mal, imam salat tetap mengikuti salat di Masjidilharam. ”Untuk kali pertama alat di mal dekat Masjidilharam. Kebetulan jamaah Masjidilharam berjubel hingga pintu masuk Grand Zamzam tertutup dan tidak bisa dilewati,” tambah Dedi Muhartadi, jamaah asal Kabupaten Mojokerto lainnya. Untuk menuju lobi hotel Tower Zamzam, jamaah lebih dulu naik lift. Lift yang disediakan pun cukup lebar. Satu lift mampu menampung kurang lebih 25 orang sekaligus. Lobi hotel tidak terlalu luas, tetapi cukup mewah. Semua petugas dan karyawan didominasi laki-laki.

Dari lobi hotel, untuk menuju kamar, jamaah harus naik lift. Lift di sini seperti hotel-hotel di tanah air, tapi jumlahnya cukup banyak. Petunjuk di lorong-lorong lantai cukup jelas, karena semua menggunakan Bahasa Inggris.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia