Minggu, 18 Aug 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Mojokerto Punya "Stok" 1.478 Janda "Basah"

18 Agustus 2017, 19: 57: 41 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (jawapos.com)

MOJOKERTO - Keharmonisan sebagian warga Kota dan Kabupaten Mojokerto dalam membina hubungan rumah tangga tampaknya yang tak seindah yang dikira.

Hal itu terbukti dari angka perceraian pasangan suami-istri dari tahun ke tahun semakin meningkat tak terkendali. Peningkatan tersebut sesuai dengan catatan cerai talak dan gugat yang mampir ke meja hakim Pengadilan Agama (PA) Mojokerto. Selama tujuh bulan terakhir (Januari-Juli) ini, PA ketibanan tak kurang dari 1.744 pengajuan cerai talak dan gugat.

Dari jumlah itu, cerai gugat atau perceraian yang diajukan oleh pihak istri mendominasi. Yakni, sebanyak 1.194 perkara. Sedangkan cerai talak atau cerai yang diajukan pihak suami hanya berkisar 550 perkara. Jika dibandingkan dengan catatan di bulan yang sama di tahun lalu, jumlah tersebut jauh lebih banyak.

Dari catatan PA di tahun 2016, jumlah cerai yang diterima PA sebanyak 1.583 perkara. Lagi-lagi, jenis cerai gugat mendominasi putusnya hubungan suami-istri, yakni sebesar 1.077 perkara. Sedangkan cerai talak yang diajukan pihak suami hanya sebesar 506 perkara.

’’Asumsi besar orang jika datang ke PA pasti akan diputus cerai. Padahal, semua hakim pasti mengupayakan mediasi dulu sebelum melanjutkan perceraian. Asumsi itu yang mungkin jadi faktor mengapa peningkatan selalu terjadi tiap tahun,’’ ungkap Sofyan Zefri, Humas PA Mojokerto kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Jumat (18/8).

Ya, tingginya pengajuan pisah ranjang bukan tidak diupayakan oleh hakim PA. Terbukti, dari 1.744 perkara cerai yang diajukan, hanya 1.478 perkara diantaranya yang telah diputus hakim. Perbandingannya, 10 persen dari jumlah pengajuan telah diupayakan rujuk hingga gugatan dicabut. Itu artinya, ada 1.478 janda dan duda baru alias "basah" kurang dari 7 bulan terakhir.

’’Perceraian itu muncul kan pasti karena ada potensi perselisihan dan pertengkaran. Nah, faktor yang menyebabkan perselisihan ada banyak. Kalau di PA, diklasifikasikan menjadi 13 item,’’ imbuhnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia