Dari catatan sejarah, masjid ini didirikan pada 15 Januari 1893 oleh Bupati Mojokerto kelima, Raden Adipati Kromojoyo Adinegoro III. Dengan demikian, tahun 2026 ini masjid tersebut sudah berusia 133 tahun.
Sejak awal pembangunan, masjid ini telah dirancang untuk merepresentasikan identitas lokal Mojokerto sebagai pusat bekas Kerajaan Majapahit, sembari tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.
Begitu melangkah ke area masjid, pengunjung langsung disuguhi bentuk bangunan asli masjid yang saat ini diletakkan di halaman utama. Soko guru dan struktur bangunan lama tersebut masih dipertahankan, meski masjid sudah mengalami renovasi.
Di dalam masjid nuansa Majapahitan langsung terasa pada ornamen ukiran yang menghiasi berbagai sudut bangunan. Termasuk bagian-bagian bawah pilar bangunan dibalut dengan ukiran menyerupai yoni.
Ukiran-ukiran kayu jati berkualitas tinggi dari Jepara menampilkan motif tradisional yang rumit, termasuk simbol segi delapan Surya Majapahit yang ikonik. Selain itu, keberadaan beduk raksasa berdiameter 225 cm dan panjang 3,5 meter diklaim sebagai beduk terbesar di Indonesia.
Di sisi lain, elemen arsitektur Arabian hadir melalui penggunaan kaligrafi yang estetik. Ayat-ayat suci Alquran terukir indah, bersanding harmonis dengan motif ukiran lokal. ”Perpaduan arsitektur ini bukan sekadar soal estetika bangunan. Madasa adalah simbol bagaimana Islam masuk dan berasimilasi dengan budaya lokal tanpa menghilangkan jati diri keduanya,” ujar Abdul Razak, warga setempat. (fan/ris)
Editor : Fendy Hermansyah