Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perspektif Taurat dan Al-Qur’an

F
Penulis: Fendy Hermansyah❯

KH. Su’ud Amin, M.Pd.I, Sekretaris Umum DP MUI Kabupaten Mojokerto
KH. Su’ud Amin, M.Pd.I, Sekretaris Umum DP MUI Kabupaten Mojokerto
Oleh: KH. Su’ud Amin, M.Pd.I, Sekretaris Umum DP MUI Kabupaten Mojokerto


Advertisement

KITAB suci Taurat adalah kitabnya Nabi Musa AS. Untuk mendapatkan kitab suci tersebut tentu melalui proses yang sangat panjang dan melelahkan.

Alkisah, sebelum menerima Kitab Suci Taurat. Suatu saat Nabi Musa AS di perintahkan oleh Alloh SWT untuk tirakat, riyadlah serta munajat di Bukit Thursina.

Nabi Musa diizinkan oleh Alloh SWT membawa 70 orang pilihan di antara kaumnya (Al A’raf : 155).

Advertisement

Tatkala sudah sampai di tempat riyadlah Bukit Thursina, Nabi Musa diperintah Alloh SWT untuk berpuasa selama 30 hari siang dan malam tanpa makan dan minum sama sekali.

Sampai di hari yang ke 30 Nabi Musa merasa mulutnya bau busuk, kemudian beliau mengambil daun-daunan di sekitarnya lalu digosokkan ke mulutnya.

Tanpa disadari, ternyata Nabi Musa belum bisa menyempurnakan perintah Alloh berpuasa 30 hari. Maka Alloh SWT tambahkan kepada Musa berpuasa 10 hari. Dan sempurnalah puasanya menjadi 40 hari ( Al A’raf : 142).

Advertisement

“Dan telah Kami Janjikan kepada Musa (memberikan Taurat)sesudah berlalu waktu 30 malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan 10 (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya 40 malam”.

Barulah Nabi Musa a.s menerima Kitab Suci Taurat.

Bagaimana dengan Al-Qur’an?

Al-Qur’an adalah Kitab Suci Nabi Muhammad SAW. Alkisah, Sebelum beliau menerima wahyu (Al-Qur’an) yang pertama.

Baginda Nabi Muhammad SAW juga berpuasa 40 hari, berhenti sejenak lalu berpuasa lagi 40 hari. Dan begitulah, dijalani beliau selama 2 tahun.

Barulah beliau menerima wahyu pertama di gua Hira’ surat Al Alaq ayat 1 sampai 5.

Makna yang terkandung dari kisah di atas yakni, bahwa untuk mendapatkan derajat yang mulia, menjadi hamba pilihan Alloh SWT maka harus melalui proses tirakat, riyadlah (bahasa Jawa : mepes rogo) lahir dan batin.

Puasa itu adalah bagian dari riyadlah dan mepes rogo untuk menuju derajat insan yang bertakwa dan selalu bersyukur. Sehingga benar-benar bisa menjadi manusia dan memanusiakan manusia. (*)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Banser Diminta Memegang Teguh Netralitas Saat Diterjunkan Membantu Pengamanan Muktamar NU

Banser Diminta Memegang Teguh Netralitas Saat Diterjunkan Membantu Pengamanan Muktamar NU

’’Banser Kota Mojokerto menegaskan prinsip satu komando dengan tetap mengikuti instruksi dan arahan Satkornas Banser dan panitia muktamar. Seluruh personel yang diberangkatkan diharapkan fokus menjalankan tugas pengamana

Tren Tumbler Kalcer, Bebas Dehidrasi dan Peduli Lingkungan secara Kece

Tren Tumbler Kalcer, Bebas Dehidrasi dan Peduli Lingkungan secara Kece

Bukan lagi sekadar botol minum, tumbler kini telah menjadi bagian dari gaya hidup ramah lingkungan bagi sebagian orang. Hiasan stiker bertema band musik hingga ornamen carabiner alias pengait logam adalah di antara ciri

JPRM Berperan Strategis sebagai Katalisator Informasi dalam Menyukseskan Program Desa

JPRM Berperan Strategis sebagai Katalisator Informasi dalam Menyukseskan Program Desa

Ulasan terkait program di tingkat desa yang rutin ditayangkan Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM) ini dinilai sangat strategis dalam mendukung program perdesaan dan kementerian.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer