Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tedur

F
Penulis: Fendy Hermansyah❯
Ilustrasi bedug
Ilustrasi bedug
SETIAP memasuki bulan puasa, masyarakat akan menanti hasil sidang isbat dalam penetapan awal puasa oleh Kememterian Agama (Kemenag). Namun, sebelum pesatnya perkembangan teknologi informasi, awal bulan suci dilakukan ditandai dengan dilaksanakannya tradisi tedur atau menabuh bedug.

Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, tedur adalah memukul bedug masjid secara bertalu-talu. Irama khas tedur hanya terdengar ketika awal Ramadan dan juga di pengujung bulan suci. ”Cara penyampaian awal Ramadan itu dulu dilakukan oleh para kiai dan ulama untuk menyiasati keterbatasan sarana komunikasi pada masa lalu,” paparnya.

Menurutnya, istilah tedur berasal dari bunyi pukulan bedug. Pukulan alat penabuh pada kulit penutup akan menghasilkan bunyi ”dur-dur” dan pukulan pada rangka kayu bedug mengeluarkan suara ”tek-tek”. Sehingga, tradisi tersebut lebih dikenal dengan sebutan Tedur. ”Bedug dipilih sebagai sarana penyebaran informasi karena suara yang dihasilkan bisa terdengar hingga jarak yang jauh,” paparnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, di Mojokerto, rujukan awal puasa dilakukan di Masjid Agung Al-Fattah. Menjelang puasa, sejumlah kiai berkumpul di masjid yang sejajar dengan Alun-Alun Kota Mojokerto itu. Setelah menerima kepastian informasi terkait awal puasa dari Surabaya, pesan kemudian disebarluaskan dengan melakukan tedur. ”Dari tedur di masjid agung itu, kemudian tedur terus menjalar hingga ke masjid-masjid di pelosok desa lainnya,” paparnya.

Dengan tradisi tedur, maka pelaksanaan ibadah puasa bisa berjalan bersamaan di suatu daerah. Dalam perkembangannya, tedur tidak hanya dilakukan pada awal dan akhir puasa saja. Tapi seusai tarawih juga ada jamaah yang membunyikan bedug sebelum tadarus quran. (ram/ron)


Advertisement
Advertisement

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer