alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Mokel

SALAH satu kata yang cukup populer di bulan Ramadan adalah mokel. Istilah tersebut tidak sekadar dialamatkan bagi seseorang yang membatalkan puasa sebelum waktu berbuka. Namun juga menjadi kontrol sosial di tengah masyarakat selama bulan puasa.

Ketua Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq mengatakan, mokel bukan hanya melakukan makan dan minum magrib tiba. Tetapi, mokel merupakan sebuah bentuk ketidakjujuran. ”Karena orang yang telah melakukan mokel akan besikap seolah-olah masih tetap menjalankan puasa,” terangnya.

Sehingga, kata dia, mokel hanya berlaku bagi seseorang yang semula telah berniat berpuasa. Selain itu, ”syarat” mokel adalah dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang lain. Jika dilakukan bersama-sama, maka sebelumnya telah ada kesepakatan untuk saling tutup mulut. ”Karena secara moral, mokel bisa dianggap sebagai bagian dari penipuan publik,” celetuknya.

Baca Juga :  Patrol

Karena itu, di kalangan anak-anak, mokel akan menjadi buah bibir bagi teman sebayanya. Sehingga, jika ada yang mokel, biasanya dilakukan secara diam-diam agar tidak dipergunjingkan di hadapan kawan sepermainan. Atau setidaknya supaya tidak ada yang wadul ke orang tuanya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, mokel menjadi istilah yang familiar di hampir semua daerah di Jawa Timur. Tak terkecuali di telinga masyarakat Mojokerto. Meski sebutan tersebut tidak terdapat dalam kosa kata bahasa.

Bisa jadi, sebut Yuhan, istilah mokel diserap dari kata mokal yang berarti sesuatu di luar kemungkinan atau juga dapat bermakna membantah atau menolak tuduhan. ”Karena itu, seseorang yang mokel akan menyembunyikan perbuatan yang dilakukannya. Berbeda dengan orang yang tidak berpuasa karena sedang berhalangan,” bebernya.

Baca Juga :  Merconan

Di tengah masyrakat dengan tingkat kesalehan yang tinggi, mokel dapat dipandang sebagai perbuatan yang tidak etis. Karena dianggap tidak menghargai orang lain yang sedang menjalankan ibadah puasa. Norma itu lah yang menjadi kontrol sosial bagi seseorang yang berniat membatalkan puasa dengan cara sembunyi-sembunyi. ”Karena kalau ketahuan, orang yang mokel akan merasa malu dan bersalah,” pungkasnya. (ram/ron)

SALAH satu kata yang cukup populer di bulan Ramadan adalah mokel. Istilah tersebut tidak sekadar dialamatkan bagi seseorang yang membatalkan puasa sebelum waktu berbuka. Namun juga menjadi kontrol sosial di tengah masyarakat selama bulan puasa.

Ketua Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq mengatakan, mokel bukan hanya melakukan makan dan minum magrib tiba. Tetapi, mokel merupakan sebuah bentuk ketidakjujuran. ”Karena orang yang telah melakukan mokel akan besikap seolah-olah masih tetap menjalankan puasa,” terangnya.

Sehingga, kata dia, mokel hanya berlaku bagi seseorang yang semula telah berniat berpuasa. Selain itu, ”syarat” mokel adalah dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang lain. Jika dilakukan bersama-sama, maka sebelumnya telah ada kesepakatan untuk saling tutup mulut. ”Karena secara moral, mokel bisa dianggap sebagai bagian dari penipuan publik,” celetuknya.

Baca Juga :  Puluran

Karena itu, di kalangan anak-anak, mokel akan menjadi buah bibir bagi teman sebayanya. Sehingga, jika ada yang mokel, biasanya dilakukan secara diam-diam agar tidak dipergunjingkan di hadapan kawan sepermainan. Atau setidaknya supaya tidak ada yang wadul ke orang tuanya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, mokel menjadi istilah yang familiar di hampir semua daerah di Jawa Timur. Tak terkecuali di telinga masyarakat Mojokerto. Meski sebutan tersebut tidak terdapat dalam kosa kata bahasa.

Bisa jadi, sebut Yuhan, istilah mokel diserap dari kata mokal yang berarti sesuatu di luar kemungkinan atau juga dapat bermakna membantah atau menolak tuduhan. ”Karena itu, seseorang yang mokel akan menyembunyikan perbuatan yang dilakukannya. Berbeda dengan orang yang tidak berpuasa karena sedang berhalangan,” bebernya.

Baca Juga :  Ngaji Takjilan

Di tengah masyrakat dengan tingkat kesalehan yang tinggi, mokel dapat dipandang sebagai perbuatan yang tidak etis. Karena dianggap tidak menghargai orang lain yang sedang menjalankan ibadah puasa. Norma itu lah yang menjadi kontrol sosial bagi seseorang yang berniat membatalkan puasa dengan cara sembunyi-sembunyi. ”Karena kalau ketahuan, orang yang mokel akan merasa malu dan bersalah,” pungkasnya. (ram/ron)

Artikel Terkait

Puluran

Darusan

Merconan

Ngaji Takjilan

Most Read

Artikel Terbaru

/