alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Patrol

PATROL sahur menjadi salah satu budaya yang masih melekat selama bulan Ramadan. Kegiatan sekumpulan anak-anak yang berkeliling kampung sambil memukul kentongan atau benda lainnya secara berirama untuk membangunkan warga untuk makan sahur.

Ketua Divisai Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, patrol sahur berawal dari kebiasaan dari anak laki-laki yang tidur di musala maupun masjid saat Ramadan. Sebab, selama sebulan penuh di bulan puasa dilakukan tadarus Alquran di malam hari. ”Setelah deresan, anak-anak akan tidur di langgar,” terangnya.

Sebelum waktu sahur tiba, mereka akan dibangunkan takmir langgar atau masjid untuk pulang makan sahur di rumah masing-masing. Namun, di sela perjalanan pulang itu, sekumpulan anak langgaran juga membangunkan warga lainnya untuk sahur dengan cara memukul benda yang dapat menghasilkan bunyi lantang. ”Kebanyakan memakai kentongan yang biasa digunakan di musala sebagai penanda waktu ibadah,” papar pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Baca Juga :  Blanggur

Secara bersahutan, anak-anak akan keliling kampung dengan membunyikan kentongan serta meneriakkan kata sahur. Tak sekadar membangunkan warga yang masih terlelap, aktivitas sebelum subuh itu juga dikreasikan dengan peralatan lainnya hingga menghasilkan suara yang berirama.

Selain kentongan, bunyi-bunyian juga berasal dari barang logam bekas, botol, maupun jeriken. ”Kegiatan membangunkan makan sahur akhirnya menjadi budaya yang lekat dengan bulan puasa,” ulasnnya.

Dalam perkembangannya, kegiatan membangunkan sahur dengan berkeliling kampung itu dikenal sebagai patrol sahur. Yuhan menyatakan, sebutan itu berasal dari bahasa Belanda patrouille yang juga diadopsi dalam bahasa Jawa menjadi patrol yang bermakna sekumpulan orang yang berkeliling menjaga keamanan lingkungan. ”Keberadaan patrol sahur sangat membantu warga agar tidak tertinggal waktu sahur. Apalagi di masa belum adanya pengeras surara di tempat ibadah dan alarm,” imbuhnya.

Baca Juga :  Poso Beduk

Rute patrol sahur biasanya dimulai dari langgar atau musala. Kemudian tim patrol sahur menyusuri jalan desa secara memutar hingga berakhir di titik awal. Selanjutnya, akan-anak membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing untuk makan sahur bersama keluarga. (ram/ron)

PATROL sahur menjadi salah satu budaya yang masih melekat selama bulan Ramadan. Kegiatan sekumpulan anak-anak yang berkeliling kampung sambil memukul kentongan atau benda lainnya secara berirama untuk membangunkan warga untuk makan sahur.

Ketua Divisai Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, patrol sahur berawal dari kebiasaan dari anak laki-laki yang tidur di musala maupun masjid saat Ramadan. Sebab, selama sebulan penuh di bulan puasa dilakukan tadarus Alquran di malam hari. ”Setelah deresan, anak-anak akan tidur di langgar,” terangnya.

Sebelum waktu sahur tiba, mereka akan dibangunkan takmir langgar atau masjid untuk pulang makan sahur di rumah masing-masing. Namun, di sela perjalanan pulang itu, sekumpulan anak langgaran juga membangunkan warga lainnya untuk sahur dengan cara memukul benda yang dapat menghasilkan bunyi lantang. ”Kebanyakan memakai kentongan yang biasa digunakan di musala sebagai penanda waktu ibadah,” papar pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Baca Juga :  Mokel

Secara bersahutan, anak-anak akan keliling kampung dengan membunyikan kentongan serta meneriakkan kata sahur. Tak sekadar membangunkan warga yang masih terlelap, aktivitas sebelum subuh itu juga dikreasikan dengan peralatan lainnya hingga menghasilkan suara yang berirama.

Selain kentongan, bunyi-bunyian juga berasal dari barang logam bekas, botol, maupun jeriken. ”Kegiatan membangunkan makan sahur akhirnya menjadi budaya yang lekat dengan bulan puasa,” ulasnnya.

Dalam perkembangannya, kegiatan membangunkan sahur dengan berkeliling kampung itu dikenal sebagai patrol sahur. Yuhan menyatakan, sebutan itu berasal dari bahasa Belanda patrouille yang juga diadopsi dalam bahasa Jawa menjadi patrol yang bermakna sekumpulan orang yang berkeliling menjaga keamanan lingkungan. ”Keberadaan patrol sahur sangat membantu warga agar tidak tertinggal waktu sahur. Apalagi di masa belum adanya pengeras surara di tempat ibadah dan alarm,” imbuhnya.

Baca Juga :  Mayoritas Pedagang Pilih Bertahan
- Advertisement -

Rute patrol sahur biasanya dimulai dari langgar atau musala. Kemudian tim patrol sahur menyusuri jalan desa secara memutar hingga berakhir di titik awal. Selanjutnya, akan-anak membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing untuk makan sahur bersama keluarga. (ram/ron)

Artikel Terkait

Puluran

Darusan

Merconan

Ngaji Takjilan

Most Read

Artikel Terbaru

Polisi Bongkar Arena Sabung Ayam

Eks Kades Mengadu Ke Polisi

Pemkab Bakal Gunakan BTT

PSMTI Berbagi dan Hibur Lansia

/