alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

Megengan

Ramapedia

MENJELANG bulan suci Ramadan, terdapat sejumlah ritual yang dilakukan. Kegiatan yang diwariskan secara turun temurun itu kemudian menjadi tradisi. Salah satunya adalah megengan yang masih banyak dijumpai di tengah masyarakat di Mojokerto Raya.

Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, dalam istilah Jawa, megengan berasal dari kata pegeng atau megeng yang berarti menahan. Sehingga, dapat dimaknai sebagai menahan hawa nafsu di dalam konteks ibadah puasa. ”Jadi, megengan merupakan tahap persiapan diri untuk memasuki bulan puasa,” terangnya.

Dijelaskannya, megengan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara masal oleh masyarakat di sebuah wilayah perkampungan atau desa/kelurahan. Bahkan, pada masa lalu, tokoh desa memerintahkan langsung warganya untuk menggelar megengan.

Baca Juga :  Ngaji Takjilan

Pria yang akrab disapa Yuhan ini memaparkan, salah satu rangkaian dalam megengan adalah nyekar atau ziarah ke makam orang tua atau leluhur. Menurutnya, nyekar berasal dari kata sekar atau bunga. ”Sebab, peziarah akan membawa bunga wewangian untuk ditabur pada makam,” tandasnya.

Umumnya, ziarah dilaksanakan pada sore hari setelah salat Asar. Namun, di balik tradisi tersebut juga dipengaruhi keyakinan masyarakat terhadap arwah leluhur yang akan pulang ke rumah untuk menjenguk keturunannya jelang Ramadan.
Tradisi tersebut juga dikenal sebagai nyadran di daerah yang berada dalam pengaruh Mataraman.

Tapi, kata Yuhan, di Mojokerto istilah nyadran masih kalah populer dengan nyekar. ”Biasanya, para orang tua akan mengajak anggota keluarganya saat berziarah. Terutama anggota laki-laki untuk datang mendoakan arwah pendahulunya,” pungkasnya. (ram/ron)

Baca Juga :  Poso Beduk

Ramapedia

MENJELANG bulan suci Ramadan, terdapat sejumlah ritual yang dilakukan. Kegiatan yang diwariskan secara turun temurun itu kemudian menjadi tradisi. Salah satunya adalah megengan yang masih banyak dijumpai di tengah masyarakat di Mojokerto Raya.

Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, dalam istilah Jawa, megengan berasal dari kata pegeng atau megeng yang berarti menahan. Sehingga, dapat dimaknai sebagai menahan hawa nafsu di dalam konteks ibadah puasa. ”Jadi, megengan merupakan tahap persiapan diri untuk memasuki bulan puasa,” terangnya.

Dijelaskannya, megengan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara masal oleh masyarakat di sebuah wilayah perkampungan atau desa/kelurahan. Bahkan, pada masa lalu, tokoh desa memerintahkan langsung warganya untuk menggelar megengan.

Baca Juga :  Pasokan Elpiji Jelang Ramadan Dipastikan Aman

Pria yang akrab disapa Yuhan ini memaparkan, salah satu rangkaian dalam megengan adalah nyekar atau ziarah ke makam orang tua atau leluhur. Menurutnya, nyekar berasal dari kata sekar atau bunga. ”Sebab, peziarah akan membawa bunga wewangian untuk ditabur pada makam,” tandasnya.

Umumnya, ziarah dilaksanakan pada sore hari setelah salat Asar. Namun, di balik tradisi tersebut juga dipengaruhi keyakinan masyarakat terhadap arwah leluhur yang akan pulang ke rumah untuk menjenguk keturunannya jelang Ramadan.
Tradisi tersebut juga dikenal sebagai nyadran di daerah yang berada dalam pengaruh Mataraman.

- Advertisement -

Tapi, kata Yuhan, di Mojokerto istilah nyadran masih kalah populer dengan nyekar. ”Biasanya, para orang tua akan mengajak anggota keluarganya saat berziarah. Terutama anggota laki-laki untuk datang mendoakan arwah pendahulunya,” pungkasnya. (ram/ron)

Baca Juga :  Dilarang Beroperasi, Pengelola Karaoke Pilih Perawatan

Artikel Terkait

Puluran

Darusan

Merconan

Ngaji Takjilan

Most Read

Artikel Terbaru

/