- Lembaga Pendidikan Dapat Kompensasi
- Dijatah Pemasangan Modem dari Provider
KOTA – Meski belum menyala, namun lembaga pendidikan yang terdampak gangguan internet di Kota Mojokerto akhirnya mendapat angin segar. Itu setelah kemarin (4/12) mereka menerima kompensasi sebagai bentuk ganti rugi selama jaringan internet yang dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran tak kunjung menyala selama beberapa hari. Di sisi lain, para siswa terpaksa menggunakan kuota pribadi saat jaringan wireless fidelity (WiFi) di sekolah belum menyala.
Di SMAN 3 Mojokerto, salah satunya. Siswa masih melaksanakan ujian sumatif akhir semester (SAS) yang memasuki hari ketiga kemarin dengan memanfaatkan kuota pribadi. Terlebih pengerjaan soal-soal ujian tetap berbasis online. ’’Internet belum menyala. Siswa tetap mengerjakan secara online, tapi pakai kuota internet masing-masing,’’ kata Kepala SMAN 3 Mojokerto Silfi Ariani.
Dia mengakui terputusnya jaringan internet di sekolahnya tersebut terjadi sejak Selasa (2/12). Saat itu bersamaan dengan penyegelan jaringan internet milik beberapa provider secara serentak oleh Satpol PP Kota Mojokerto. Namun, kemarin siang pihak provider mendatangi sekolah untuk memberikan kompensasi. ’’Ini tadi (kemarin, Red) ada pihak provider datang ke sekolah ngasih kompensasi pemasangan modem WiFi dan kuotanya,’’ imbuhnya.
Demikian pula yang dialami SDN Gedongan 1. Jaringan internet di sekolah tingkat dasar ini juga belum menyala selama tiga hari. Namun, pihak provider akhirnya mendatangi sekolah untuk memberikan kompensasi sebagai pengganti akibat kendala jaringan internet yang berdampak terhadap kegiatan pendidikan.
’’Ini tadi (kemarin, Red) diberi modem dan kuota, langsung kami pasang dan pakai untuk mengerjakan tugas bapak-ibu guru,’’ terang Kepala SDN Gedongan 1 Nur Chasanah. Seperti diketahui sebelumnya, sejumlah sekolah di Kota Mojokerto mengalami masalah saat pelaksanaan ujian SAS, Rabu (3/12), akibat jaringan internet yang bermasalah. Sehingga siswa terpaksa menggunakan kertas untuk mengerjakan soal-soal ujian. Seperti yang terjadi di SMPN 1 Mojokerto. Sejak Selasa (2/12), para siswa terpaksa menerapkan dua mode pengerjaan soal SAS atau ujian kenaikan kelas, yakni melalui metode daring dan luring. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah